Selasa, 16 Februari 2010

LINK DOWNLOAD

Untuk recall Klik http://www.ziddu.com/download/8623769/SemiQuantitiedFoodRecall.zip.html
Untuk hitung Status Gizi cepat http://www.ziddu.com/download/8623854/HitungStatusGizi.zip.html
Untuk Presisi dan akurasi data PSG http://www.ziddu.com/download/8623855/PresisiAkurasiPSG.zip.html

Sabtu, 13 Februari 2010

SUSUNAN PENGURUS PERSAGI DPC SAMBASINGKA 2009-2013

SUSUNAN PENGURUS DPC PERSAGI SAMBASINGKA PERIODE 2009 - 2013

Pelindung : 1. Bupati Sambas
2. Walikota Singkawang
3. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas
4. Kepala Dinas Kesehatan Kota Singkawang
Penasehat : H.T. Iskandar
Henry Tri Purwati, SKM

Ketua I : Irwanda, SKM
Ketua II : Edi Rosadi, A.Md. Gizi
Sekretaris I : Samsi Dariah, S.Gz
Sekretaris II : Muslimin, S.Gz
Bendahara I : Sri Rantauwati, SKM
Bendahara II : Suzanna, A.Md. Gizi

Organisasi dan Pembinaan Profesi
Ketua I : Rini Okewati, A.Md. Gizi
Ketua II : Ade Rasmi, A.Md. Gizi
Anggota : 1. Sidra, A.Md. Gizi
2. Sudarmi, A.Md. Gizi
3.Deni Citra, A.Md. Gizi
4. Wirto, A.Md. Gizi
5. Novi Pralia, A.Md. Gizi
6. Rima Natalia, A.Md. Gizi

Penelitian dan Pengembangan
Ketua I : U. Rosanti, SKM
Ketua II : Erma Susanti, A.Md. Gizi
Anggota : 1. Suerwin, A.Md. Gizi
2. Astri Monica, A.Md. Gizi
3. Marini, A.Md. Gizi
4.Galuh Haryati
5. Kusmayasari, A.Md. Gizi
6.Yusmiamiza, A.Md. Gizi

Gizi Masyarakat dan Institusi
Ketua I : Suci Rahayu, A.Md. Gizi
Ketua II : Desi Sulvina, A.Md. Gizi
Anggota : 1. Catur Satyawati, A.Md. Gizi
2. Yusniarti, A.Md. Gizi
3. Murniati, A.Md. Gizi
4. Agustriana
5.Aris
6. Aulia

Gizi Klinik dan Mikro
Ketua I : Rif’annur Surya, S.Gz
Ketua II : Yuliana, A.Md. Gizi
Anggota : 1. Santi Anggraini, A.Md. Gizi
2. Dian, A.Md. Gizi
3. Ida AP. Kartika Sari, A.Md. Gizi
4. Fitriani, A.Md. Gizi
5. Rosdiyatun, A.Md. Gizi
6. Fatmawati, A.Md. Gizi

Kewirausahaan
Ketua I : Nur Azma, SKM
Ketua II : Sudiarti, A.Md. Gizi
Anggota : 1. Widyastuti, A.Md. Gizi
2. Suharti, A.Md. Gizi
3. Emawati, A.Md. Gizi
4. Lidyawati, A.Md. Gizi
5. Ita Kesumawati, A.Md. Gizi
6. Ros Evelyn, A.Md. Gizi

Promosi dan Publikasi
Ketua I : Rio Yassin, A.Md. Gizi
Ketua II : Fatmawati, A.Md. Gizi
Anggota : 1. Bayu Rizu, A.Md. Gizi
2. Ilham, A.Md. Gizi
3. Heny, A.Md. Gizi
4. Asnani, A.Md. Gizi
5. Heru Sumedi
6. Tri

Jumat, 12 Februari 2010

DOWNLOAD APLIKASI

UNTUK TEMAN2 GIZI YANG KEBINGUNGAN MENGHITUNG KEBUTUHAN FORMULA UNTUK ANAK GIZI BURUK SILAHKAN DOWNLOAd, COPY LINK INI :http://www.ziddu.com/download/8438522/FORGIRUK.xls.html
DAN UNTUK YANG PUYENG BIKIN LAPORAN TIAP BULAN NIH DOWNLOAD AJA APLIKASINYA :
http://www.ziddu.com/download/8438878/DataGizi.xls.html
untuk yng pengen download aplikasi konsul diabet klik http://www.ziddu.com/download/8595908/KONSULTASIDIABET.xls.html
untuk konsul sabrina klik http://www.ziddu.com/download/8595909/SABRINAMODIFIKASI.xls.html
Untuk aplikasi Nutrition 4 Health klik http://www.ziddu.com/download/8595910/N4HProgram.xls.html
SEMOGA BERMANFAAT

STANDART KOMPETENSI AHLI GIZI

KOMPETENSI INTI AHLI MADYA GIZI
1. Melakukan praktek kegizian sesuai dengan nilai-nilai dan kode etik profesi Gizi
2. Merujuk pasien /klien kepada professional N/D atau disiplin lain bila diluar komampuan/ kewenangan.
3. Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan profesi.
4. Melakukan pengkajian diri dan berpartisipasi dalam pengembangan profesi serta pendidikan seumur.
5. Berpartisipasi dalam penyusunan kebijakan pemerintah dalam bidang pangan, ketahanan pangan, pelayanan gizi dan kesehatan.
6. Menggunakan tekonologi mutakhir untuk kegiatan komunikasi dan informasi.
7. Mengawasi dokumentasi pengkajian dan intervensi gizi.
8. Memberikan pendidikan Gizi dalam praktek kegizian.
9. Mengawasi konseling, pendidikan, dan / atau intervensi lain dalam promosi kesehatan atau pencegahan penyakit yang diperlukan dalam terapi gizi untuk keadaan penyakit umum .
10. Mengawasi pendidikan dan pelatihan gizi untuk kelompok sasaran tertentu.
11. Mengkaji ulang dan mengembangkan materi pendidikan untuk populasi sasaran.
12. Berpartisipasi dalam penggunaan media masa untuk promosi pangan dan gizi.
13. Menginterpretasikan dan memadukan pengetahuan ilmiah terbaru dalam praktek kegizian.
14. Mengawasi perbaikan mutu pelayanan gizi dalam rangka meningkatkan kepuasan pelanggan.
15. Mengembangkan dan mengukur dampak dari pelayanan dan praktek kegizian
16. Berpartisipasi dalam perubahan organisasi, perencanaan dan proses penentapan tujuan.
17. Berpartisipasi dalam bisnis atau pengembangan rencana operasional
18. Mengawasi pengumpulan dan pengolahan data keuangan praktek kegizian.
19. Melakukan fungsi pemasaran.
20. Berpartisipasi dalam pendayagunaan sumber daya manusia.
21. Berpartisipasi dalam pengelolaan sarana fisik termasuk pemilihan peralatan dan merancang/merancang ulang unit-unit kerja.
22. Mengawasi sumberdaya manusia, keuangan, fisik, materi dan pelayanan secara terpadu.
23. Mengawasi produksi makanan yang sesuai dengan pedoman gizi, biaya dan daya terima klien.
24. Mengawasi pengembangan dan atau modifikasi resep /formula.
25. Mengawasi penerjemahan kebutuhan gizi menjadi menu makanan untuk kelompok sasaran.
26. Mengawasi rancangan menu sesuai dengan kebutuhan dan status kesehatan klien.
27. Berpartisipasi dalam melakukan penilaian citarasa (organoleptik) makanan dan produk gizi.
28. Mengawasi sistem pengadaan, distribusi dan pelayanan makanan.
29. Mengelola keamanan dan sanitasi makanan.
30. Mengawasi penapisan gizi untuk individu dan kelompok.
31. Mengawasi Penilaian gizi klien dengan kondisi kesehatan umum (Obesitas, hipertensi dll)
32. Menilai status gizi individu dengan kondisi kesehatan kompleks (Ginjal, gizi buruk, dll).
33. Merancang dan menerapkan rencana pelayanan gizi sesuai dengan keadaan kesehatan klien.
34. Mengelola pemantauan asupan makanan dan gizi klien.
35. Memilih, menerapkan dan mengevaluasi standar makanan enteral dan parentral untuk memenuhi kebutuhan gizi yang dianjurkan termasuk zat gizi makro.
36. Mengembangkan dan menerapkan rencana pemberian makanan peralihan.
37. Mengkoordinasikan dan memodifikasi kegiatan pelayanan gizi diantara pemberi pelayanan.
38. Melakukan komponen pelayanan gizi dalam forum diskusi tim medis untuk tindakan dan rencana rawat jalan pasien.
39. Merujuk klien kepada pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih sesuai dengan kesehatan umum dan gizi.
40. Mengawasi penapisan status gizi kelompok masyarakat.
41. Melakukan penilaian status gizi kelompok masyarakat.
42. Melakukan pelayan gizi pada berbagai kelompok masyarakat sesuai dengan budaya, agama dalam daur kehidupan
43. Melakukan program promosi kesehatan atau program pencegahan penyakit.
44. Berpartisipasi dalam pengembangan dan evaluasi program pangan dan gizi masyarakat.
45. Mengawasi pangan dan program gizi masyarakat.
46. Berpartisipasi dalam penetapan biaya praktek pelayanan kegizian

STANDAR KOMPETENSI TERAPI DIIT
1. Mengawasi pengkajian gizi klien dengan kondisi medis komplek (gagal ginjal,trauma dll)
2. Menentukan rekomendasi diit dengan memperhatikan patofisiologi penyakit
3. Mengawasi evaluasi rencana pelayanan gizi bagi klien/kelompok dengan kondisi medis komplek (penyakit ginjal, trauma)
4. Memilih, memonitor dan mengevaluasi makann enteral dan paranteral khususnya pada penyakit-penyakit komplikasi
5. Pengembangan dan penerapan rencana transisi makanan pasien dari rawat inap sampai pasca rawat inap
6. Melakukan konseling dan penyuluhan gizi pada klien/ kelompok dengan penyakit dan kondisi keasehatan yang komplek
7. Melakukan pemeriksaan fisik dasar
8. Berpartisipasi dalam pemberian makanan lewat pipa
9. Berpartisipasi dalam penetapan ambang batas dalam pemeriksaan laboratorium
10. Berpartisipasi dalam mengupayakan segala sesuatu yang terkait dengan terapi diet
11. Mengelola pelayanan gizi

STANDAR KOMPETENSI GIZI MASYARAKAT
1. Mengelola Pelayanan Gizi pada populasi yang berbeda dalam daur kehidupan.
2. Melakukan penilaian/ evaluasi dampak program pangan dan gizi yang berbasis masyarakat.
3. Mengembangkan program pangan dan gizi yang berbasis masyarakat
4. Berpartispiasi dalam survailans dan pemantauan gizi pada masyarakat
5. Berpartisipasi dalam penelitian berbasis masyarakat
6. Berpartisipasi dalam pengembangan dan evaluasi kebijakan pangan dan gizi berdasarkan pada kebutuhan dan sumber daya.
7. Berkonsultasi dengan berbagai organisasi yang berkaitan dengan penyediaan pangan pada populasi sasaran
8. Mengembangkan proyek-proyek intervensi, pencegahan penyakit dan promosi kesehatan
9. Berpartisipasi dalam penetapan ambang batas dalam pemeriksaaan laboratorium.
10. Melaksanakan pengkajian kesehahatan umum, seperti tekanan darah.

STANDAR KOMPETENSI MANAJEMEN SISTEM PELAYANAN MAKANAN
1. Mengelola pengembangan dan atau modifikasi resep atau formula
2. Mengelola pengembangan menu untuk populasi sasaran
3. Mengelola penilaian citarasa (organoleptik) produk makanan dan gizi
4. Mengelola produksi makanan yang sesuai dengan pedoman,biaya dan daya terima konsumen
5. Mengelola sistem pengadaan, distribusi dan pelayanan.
6. Mengelola sumberdaya manusia,keuangan, peralatan dan fasilitas lainnya secara terpadu.
7. Mengawasi sistem pelayanan dan praktek kegizian untuk kepuasan konsumen.
8. Mengawasi fungsi pemasaran
9. Mengawasi fungsi sumberdaya manusia
10. Melakukan analisis kegiatan

STANDAR KOMPETENSI BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN
1. Melakukan perencanaan strategis dan pengorganisasiannya
2. Mengembangkan bisnis dan rencana operasionalnya
3. Mengawasi pengadaan sumberdaya
4. Mengelola berbagai sumberdaya material, fisik, manusia dan keuangan secara terpadu
5. Mengawasi proses perubahan organisasi
6. Mengawasi koordinasi berbagai pelayanan
7. Mengawasi fungsi pemasaran

untuk mendownload aplikasi untuk gizi buruk klik dihttp://www.ziddu.com/download/8438522/FORGIRUK.xls.html
untuk mendownload aplikasi pengolahan laporan gizi klik :http://www.ziddu.com/download/8438878/DataGizi.xls.html

Sabtu, 06 Februari 2010

JUKNIS KADARZI DESASIAGA

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR: 747/Menkes/SK/VI/2007
TENTANG
PEDOMAN OPERASIONAL KELUARGA SADAR GIZI
DI DESA SIAGA
DEPARTEMEN KESEHATAN
DIREKTORAT JENDERAL BINA KESEHATAN MASYARAKAT
DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT
2007
1
MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR: 747/Menkes/SK/VI/2007
TENTANG
PEDOMAN OPERASIONAL KELUARGA SADAR GIZI
DI DESA SIAGA
Menimbang:
Mengingat:
1. bahwa dalam rangka percepatan pencapaian sasaran 3 Departemen Kesehatan yaitu Seluruh Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) diperlukan keserasian dan keterpaduan gerak antar semua pemangku kepentingan di tingkat pusat, propinsi, kabupaten, kecamatan dan desa;
2. bahwa untuk maksud seperti pada butir 1 diperlukan Pedoman Operasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan.
1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Pemerintah Daerah;
4. Undang–undang No. 7 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom;
6. Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2006 tentang Kewenangan Wajib Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan;
7. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 9 Tahun 2001 tentang Kader Pemberdayaan Masyarakat;
8. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1547/Menkes/SK/X/2003 Tahun 2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;
9. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128/Menkes/SK/II/2004 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat;
10. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1575/Menkes/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan;
11. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 331/Menkes/SK/V/2006 Tahun 2006 tentang Rencana Strategis Departemen Kesehatan;
12. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 564/Menkes/SK/VII/2006 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga;
13. Edaran Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 411.3/1116/SJ, Tanggal 13 Juni 2001, Tentang Pedoman Revitalisasi Posyandu.
2
MEMUTUSKAN
Menetapkan
Kesatu
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEDOMAN OPERASIONAL KELUARGA SADAR GIZI DI DESA SIAGA.
Pedoman Operasional Keluarga Sadar Gizi di Desa Siaga adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.
Pedoman sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua agar digunakan sebagai acuan bagi semua pemangku kepentingan dalam perencanaan, penggerakan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian upaya pencapaian Keluarga. Sadar Gizi.
Pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan Pedoman sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan unit-unit teknis terkait dengan mengikutsertakan organisasi profesi dan masyarakat.
Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 21 Juni 2007
MENTERI KESEHATAN RI
ttd
Dr. dr. Siti Fadilah Supari, SpJP(K)
3
Lampiran
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor : 747/MENKES/SK/VI/2007
Tanggal : 21 Juni 2007
Tentang
PEDOMAN OPERASIONAL KELUARGA SADAR GIZI
DI DESA SIAGA
4
DAFTAR ISI
Hal
DAFTAR ISI ....................................................................................................
i
DAFTAR TABEL, GAMBAR, DAN FORMULIR ...............................................
ii
DAFTAR ISTILAH / SINGKATAN ....................................................................
iii
I
PENDAHULUAN .....................................................................................
1
A. Latar Belakang .....................................................................................
1
1. Masalah Gizi .....................................................................................
1
2. Penyebab Masalah Gizi ....................................................................
1
B. Rencana Strategis Departemen Kesehatan .......................................
2
C. Landasan Hukum ...............................................................................
3
II
TUJUAN, SASARAN DAN STRATEGI...... ..............................................
4
A. Pengertian ...........................................................................................
4
B. Tujuan dan Sasaran ............................................................................
4
C. Strategi Operasional ............................................................................
9
III
KEGIATAN DAN KELEMBAGAAN KADARZI .........................................
10
A. Kegiatan di Berbagai Tingkat Adminstrasi ..........................................
10
B. Kelembagaan .......................................................................................
15
IV
PEMANTAUAN DAN EVALUASI KADARZI .............................................
16
A. Pemantauan .........................................................................................
16
B. Evaluasi ...............................................................................................
17
V
PENUTUP ................................................................................................
18
5
DAFTAR TABEL
Tabel 1
Penilaian Indikator KADARZI Berdasarkan Karakteristik Keluarga..
5
Tabel 2
Indikator dan Definisi Operasional KADARZI ................................
6
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1
Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat Menuju KADARZI ........
19
DAFTAR FORMULIR
Formulir 1
Pemantauan Kegiatan KADARZI Tingkat Desa/Kelurahan.........
20
Formulir 2
Hasil Diskusi Lapangan Tingkat Desa/Kelurahan.......................
22
Formulir 3
Pemantauan Kegiatan KADARZI Tingkat Kecamatan/Puskesmas..
23
Formulir 4
Hasil Diskusi Lapangan Tingkat Kecamatan/Puskesmas ............
25
6
DAFTAR ISTILAH / SINGKATAN
ASI Eksklusif 0-6 Bulan
:
Pemberian ASI saja pada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan tanpa pemberian makanan dan minuman lain
BBLR
:
Bayi Berat Lahir Rendah (kurang dari 2500 gram)
GAKIN
:
Keluarga Miskin
KEK
:
Kurang Energi Kronis. Diderita oleh ibu hamil dan Wanita Usia Subur (WUS) yang diketahui dari hasil pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23,5 cm
Keluarga
:
Keluarga yang terdiri dari keluarga inti yaitu ayah, ibu dan anak
Keluarga Sasaran
:
Keluarga yang di dalamnya terdapat anggota keluarga yang mempunyai masalah gizi
Lauk Hewani
:
Makanan yang diolah dari bahan makanan hewani misalnya ikan, telur, daging, ayam sebagai lauk pauk
MP-ASI
:
Makanan Pendamping ASI, makanan yang diberikan pada bayi umur 6-23 bulan
Pemantauan Pertumbuhan
:
Rangkaian kegiatan yang terdiri dari penimbangan, pengisian KMS, penilaian pertumbuhan dan tindak lanjut setiap kasus gangguan pertumbuhan
PSG
:
Pemantauan Status Gizi
PWS - Gizi
:
Pemantauan Wilayah Setempat Gizi
SKD-KLB Gizi Buruk
:
Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa Gizi Buruk
SKPG
:
Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi
SIP
:
Sistem Informasi Posyandu
SKDN
:
Sistem Pencatatan dan Pelaporan hasil penimbangan Balita di Posyandu
S →Jumlah seluruh balita di wilayah kerja Posyandu
K → Jumlah balita yang memiliki KMS di
wilayah kerja Posyandu
D → Jumlah balita yang ditimbang di wilayah
kerja Posyandu
N → Balita yang ditimbang 2 bulan berturut-turut dan garis pertumbuhan pada KMS naik
2 T
:
Balita yang berat badannya tidak naik 2 kali berturut-turut
7
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1. Masalah Gizi
Masalah gizi terjadi di setiap siklus kehidupan, dimulai sejak dalam kandungan (janin), bayi, anak, dewasa dan usia lanjut. Periode dua tahun pertama kehidupan merupakan masa kritis, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Gangguan gizi yang terjadi pada periode ini bersifat permanen, tidak dapat dipulihkan walaupun kebutuhan gizi pada masa selanjutnya terpenuhi.
Sekitar 30 juta wanita usia subur menderita kurang energi kronis (KEK), yang bila hamil dapat meningkatkan risiko melahirkan BBLR. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 350 ribu bayi BBLR (≤ 2500 gram), sebagai salah satu penyebab utama tingginya angka gizi kurang dan kematian balita. Pada tahun 2005 terdapat sekitar 5 juta balita gizi kurang; 1,7 juta diantaranya menderita gizi buruk. Pada usia sekolah, sekitar 11 juta anak tergolong pendek sebagai akibat dari gizi kurang pada masa balita.
Anemia Gizi Besi (AGB) diderita oleh 8,1 juta anak balita, 10 juta anak usia sekolah, 3,5 juta remaja putri dan 2 juta ibu hamil. Sekitar 3,4 juta anak usia sekolah menderita Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).
Sementara masalah gizi kurang dan gizi buruk masih tinggi, ada kecenderungan peningkatan masalah gizi lebih sejak beberapa tahun terakhir. Hasil pemetaan gizi lebih di wilayah perkotaan di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 12 % penduduk dewasa menderita gizi lebih.
2. Penyebab Masalah Gizi
Pada tingkat individu, keadaan gizi dipengaruhi oleh asupan gizi dan penyakit infeksi yang saling terkait. Apabila seseorang tidak mendapat asupan gizi yang cukup akan mengalami kekurangan gizi dan mudah sakit. Demikian juga bila seseorang sering sakit akan menyebabkan gangguan nafsu makan dan selanjutnya akan mengakibatkan gizi kurang.
Di tingkat keluarga dan masyarakat, masalah gizi dipengaruhi oleh:
a. Kemampuan keluarga dalam menyediakan pangan bagi anggotanya baik jumlah maupun jenis sesuai kebutuhan gizinya.
b. Pengetahuan, sikap dan keterampilan keluarga dalam hal:
8
1) Memilih, mengolah dan membagi makanan antar anggota keluarga sesuai dengan kebutuhan gizinya.
2) Memberikan perhatian dan kasih sayang dalam mengasuh anak.
3) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan dan gizi yang tersedia, terjangkau dan memadai (Posyandu, Pos Kesehatan Desa, Puskesmas dll).
c. Tersedianya pelayanan kesehatan dan gizi yang terjangkau dan berkualitas.
d. Kemampuan dan pengetahuan keluarga dalam hal kebersihan pribadi dan lingkungan.
Gambaran perilaku gizi yang belum baik juga ditunjukkan dengan masih rendahnya pemanfaatan fasilitas pelayanan oleh masyarakat. Saat ini baru sekitar 50 % anak balita yang dibawa ke Posyandu untuk ditimbang sebagai upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan. Bayi dan balita yang telah mendapat kapsul vitamin A baru mencapai 74 % dan ibu hamil yang mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) baru mencapai 60 %.
Demikian pula dengan perilaku gizi lainnya juga masih belum baik yaitu masih rendahnya ibu yang menyusui bayi 0-6 bulan secara eksklusif yang baru mencapai 39 %, sekitar 28 % rumah tangga belum menggunakan garam beryodium yang memenuhi syarat, dan pola makan yang belum beraneka ragam.
B. Rencana Strategis Departemen Kesehatan RI.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Bidang Kesehatan 2005-2009 menetapkan 4 (empat) sasaran pembangunan kesehatan, satu diantaranya adalah menurunkan prevalensi gizi kurang menjadi setinggi-tingginya 20 %. Guna mempercepat pencapaian sasaran tersebut, di dalam Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005-2009 telah ditetapkan 4 strategi utama, yaitu 1) Menggerakan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat; 2) Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas; 3) Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan, dan 4) Meningkatkan pembiayaan kesehatan.
Dari empat strategi utama tersebut telah ditetapkan 17 sasaran prioritas, satu diantaranya adalah seluruh keluarga menjadi Keluarga Sadar Gizi (KADARZI). sebagai salah satu tujuan Desa Siaga. Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumberdaya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan.
9
C. Landasan Hukum
Landasan hukum pengembangan dan pembinaan Keluarga Sadar Gizi adalah sebagai berikut:
14. Undang–undang No. 7 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional;
15. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
16. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Pemerintah Daerah;
17. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;
18. Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2006 tentang Kewenangan Wajib Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan;
19. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom;
20. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa;
21. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2005 tentang Kelurahan;
22. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 951/Menkes/SK/V/2000 Tahun 2000 tentang Upaya Kesehatan Dasar di Puskesmas;
23. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 9 Tahun 2001 tentang Kader Pemberdayaan Masyarakat;
24. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1202/Menkes/SK/VIII/2003 Tahun 2003 tentang Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat;
25. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1547/Menkes/SK/X/2003 Tahun 2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;
26. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128/Menkes/SK/II/2004 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat;
27. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1575/Menkes/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan;
28. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 331/Menkes/SK/V/2006 Tahun 2006 tentang Rencana Strategis Departemen Kesehatan;
29. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 564/Menkes/SK/VII/2006 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga;
30. Edaran Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 411.3/1116/SJ, Tanggal 13 Juni 2001, Tentang Pedoman Revitalisasi Posyandu.
10
II. TUJUAN, SASARAN DAN STRATEGI
A. Pengertian
Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) adalah suatu keluarga yang mampu mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya. Suatu keluarga disebut KADARZI apabila telah berperilaku gizi yang baik yang dicirikan minimal dengan :
1. Menimbang berat badan secara teratur.
2. Memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan (ASI eksklusif).
3. Makan beraneka ragam.
4. Menggunakan garam beryodium.
5. Minum suplemen gizi (TTD, kapsul Vitamin A dosis tinggi) sesuai anjuran.
B. Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan Umum
Seluruh keluarga berperilaku sadar gizi.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatnya kemudahan keluarga dan masyarakat memperoleh informasi gizi
b. Meningkatnya kemudahan keluarga dan masyarakat memperoleh pelayanan gizi yang berkualitas.
3. Sasaran
a. 80% balita ditimbang setiap bulan
b. 80% bayi 0-6 bulan diberi ASI saja (ASI eksklusif)
c. 90% keluarga menggunakan garam beryodium
d. 80% keluarga makan beraneka ragam sesuai kebutuhan
e. Semua balita gizi buruk dirawat sesuai standar tata laksana gizi buruk
f. Semua anak 6-24 bulan GAKIN mendapatkan MP-ASI
g. 80% balita (6-59 bulan) dan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A sesuai anjuran
h. 80% ibu hamil mendapatkan TTD minimal 90 tablet selama kehamilannya.
4. Indikator dan Definisi Operasional
Perilaku KADARZI akan diukur minimal dengan 5 (lima) indikator yang menggambarkan perilaku sadar gizi. Penggunaan 5 indikator disesuaikan dengan karakteristik keluarga sebagai berikut:
11
12
Tabel 1.
Penilaian Indikator KADARZI Berdasarkan Karakteristik Keluarga
Indikator KADARZI yang berlaku *)
No Karakteristi
k Keluarga
1
2
3
4
5
Keterangan
1
Bila keluarga mempunyai Ibu hamil, bayi 0-6 bulan, balita 6-59 bulan,





Indikator ke 5 yang digunakan adalah balita mendapat kapsul vitamin A
2
Bila keluarga mempunyai bayi 0-6 bulan, balita 6-59 bulan,





-
3
Bila keluarga mempunyai ibu hamil, balita 6-59 bulan,

-



Indikator ke 5 yang digunakan adalah balita mendapat kapsul vitamin A
4
Bila keluarga mempunyai Ibu hamil
-
-



Indikator ke 5 yang digunakan adalah ibu hamil mendapat TTD 90 tablet
5
Bila keluarga mempunyai bayi 0-6 bulan





Indikator ke 5 yang digunakan adalah ibu nifas mendapat suplemen gizi
6
Bila keluarga mempunyai balita 6-59 bulan

-



-
7
Bila keluarga tidak mempunyai bayi, balita dan ibu hamil
-
-


-
-
*) Keterangan:
1. Menimbang berat badan secara teratur.
2. Memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan (ASI eksklusif).
3. Makan beraneka ragam.
4. Menggunakan garam beryodium.
5. Minum suplemen gizi (TTD, kapsul Vitamin A dosis tinggi) sesuai anjuran.
√ : berlaku
- : tidak belaku
Penjelasan rinci tentang indikator, definisi operasional dan cara pengukurannya disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2.
Indikator dan Definisi Operasional KADARZI
No
Indikator KADARZI
Pengertian
(Definisi Operasional)
Cara mengukur
Kesimpulan
1.
Menimbang berat badan secara teratur
Balita ditimbang berat badannya setiap bulan, dicatat dalam KMS
Lihat catatan penimbangan balita pada KMS selama 6 bulan terakhir.
Bila bayi berusia > 6 bulan
Bila bayi berusia 4-5 bulan.
Bila bayi berusia 2-3 bulan
Bila bayi berusia 0-1 bulan
Baik:
Bila ≥ 4 kali berturut-turut
Belum baik:
Bila < 4 kali berturut-turut
Baik:
Bila ≥ 3 kali berturut-turut
Belum baik:
Bila < 3 kali berturut-turut
Baik:
Bila ≥ 2 kali berturut-turut
Belum baik:
Bila < 2 kali berturut-turut
Baik:
Bila 1 kali ditimbang
Belum baik:
Bila belum pernah ditimbang
2.
Memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan (ASI Eksklusif)
Bayi berumur 0-6 bulan diberi ASI saja, tidak diberi makanan dan minuman lain.
Lihat catatan status ASI eksklusif pada KMS dan kohort (catatan pemberian ASI pada bayi). Lalu tanyakan kepada ibunya apakah bayi usia 0 bln, 1 bln, 2 bln, 3 bln, 4 bln, 5 bln dan 6 bln selama 24 jam terakhir sudah diberikan makanan atau minuman selain ASI?
Baik:
Bila hanya diberikan ASI saja, tidak diberi makanan dan minuman lain (ASI eksklusif 0 bln,1 bln, 2 bln, 3 bln, 4 bln, 5 bln dan 6 bln)
Belum baik:
Bila sudah diberi makanan dan minuman lain selain ASI
13
14
No Indikator KADARZI Pengertian
(Definisi Operasional) Cara mengukur Kesimpulan
3
Makan beraneka ragam
Balita mengkonsumsi makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah setiap hari
ATAU (bila tidak ada anak balita)
Keluarga mengkonsumsi makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah setiap hari
Menanyakan kepada ibu tentang konsumsi lauk hewani dan buah dalam menu anak balita selama 2 (dua) hari terakhir
ATAU (bila tidak ada anak balita)
Menanyakan kepada ibu tentang konsumsi lauk hewani dan buah dalam menu keluarga selama 3 (tiga) hari terakhir
Baik: Bila setiap hari makan lauk hewani dan buah
Belum baik:
Bila tidak tiap hari makan lauk hewani dan buah
Baik:
Bila sekurangnya dalam satu hari keluarga makan lauk hewani dan buah
Belum baik:
Bila tidak makan lauk hewani dan buah
4
Menggunakan garam beryodium
Keluarga menggunakan garam beryodium untuk memasak setiap hari
Menguji contoh garam yang digunakan keluarga dengan tes yodina/tes amilum
Baik:
Beryodium (warna ungu)
Belum baik:
Tidak beryodium (warna tidak berubah/muda)
5
Memberikan suplemen gizi sesuai anjuran
a. Bayi 6-11 bulan mendapat kapsul vitamin A biru pada bulan Februari atau Agustus
b. Anak balita 12-59 bulan mendapat kapsul vitamin A merah setiap bulan Februari dan Agustus
c. Ibu hamil mendapat TTD minimal 90 tablet selama masa kehamilan
Lihat catatan pada KMS/catatan posyandu/buku KIA, bila tidak ada tanyakan pada ibu
Lihat catatan pada KMS/catatan posyandu/buku KIA, bila tidak ada tanyakan pada ibu
Lihat catatan ibu hamil di bidan Poskesdes, bila tidak ada tanyakan pada ibu sambil melihat bungkus TTD
Baik:
• Bila mendapat kapsul biru pada bulan Feb atau Agt (6-11 bln).
• Bila mendapat kapsul merah setiap bulan Feb dan Agt (12-59 bln).
Belum baik:
Bila tidak mendapat kapsul biru/merah
Baik:
Bila jumlah TTD yang diminum sesuai anjuran
Belum baik:
Bila jumlah TTD yang diminum tidak sesuai anjuran
15
No Indikator KADARZI Pengertian
(Definisi Operasional) Cara mengukur Kesimpulan
d. Ibu nifas mendapat dua kapsul vitamin A merah: satu kapsul diminum setelah melahirkan dan satu kapsul lagi diminum pada hari berikutnya paling lambat pada hari ke 28
Lihat catatan ibu nifas, bila tida ada tanyakan pada ibu
Baik:
Bila mendapat dua kapsul vitamin A merah sampai hari ke 28
Belum baik:
Bila tidak mendapat dua kapsul vitamin A merah sampai hari ke 28
C. Strategi Operasional
Strategi untuk mencapai sasaran KADARZI adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan fungsi dan peran posyandu sebagai wahana masyarakat dalam memantau dan mencegah secara dini gangguan pertumbuhan balita.
2. Menyelenggarakan pendidikan/promosi gizi secara sistematis melalui advokasi, sosialisasi, Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) dan pendampingan keluarga.
3. Menggalang kerjasama dengan lintas sektor dan kemitraan dengan swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta pihak lainnya dalam mobilisasi sumberdaya untuk penyediaan pangan rumah tangga, peningkatan daya beli keluarga dan perbaikan asuhan gizi.
4. Mengupayakan terpenuhinya kebutuhan suplementasi gizi terutama zat gizi mikro dan MP-ASI bagi balita GAKIN.
5. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas puskesmas dan jaringannya dalam pengelolaan dan tatalaksana pelayanan gizi.
6. Mengupayakan dukungan sarana dan prasarana pelayanan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan gizi di puskesmas dan jaringannya.
7. Mengoptimalkan surveilans berbasis masyarakat melalui Pemantauan Wilayah Setempat Gizi, Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa Gizi Buruk dan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi. 16
III. KEGIATAN DAN KELEMBAGAAN KADARZI
A. Kegiatan di berbagai tingkat administrasi
1. Tingkat pusat
a. Merumuskan kebijakan dan strategi KADARZI
b. Menyusun pedoman dan materi KIE dalam rangka peningkatan kapasitas pelatih KADARZI.
c. Melaksanakan advokasi, sosialisasi dan penyebaran informasi secara berkesinambungan untuk mendapatkan dukungan, kebijakan dan sumber daya.
d. Mengembangkan kerjasama dengan lintas program, lintas sektor, perguruan tinggi, organisasi profesi dan LSM serta membina kemitraan dengan dunia usaha.
e. Melaksanakan pelatihan pelatih KADARZI dan pendampingan keluarga bagi Petugas propinsi dan kabupaten
f. Melakukan pembinaan dan pemberdayaan lintas sektor tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
g. Melakukan pemantauan dan evaluasi.
h. Mendorong terwujudnya peraturan-peraturan pemerintah yang mendukung KADARZI
2. Tingkat provinsi
a. Menyusun perencanaan kegiatan untuk pencapaian sasaran KADARZI baik melalui APBN, APBD maupun sumber lain.
b. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi secara berkesinambungan untuk mendapatkan komitmen pemangku dan dukungan kebijakan dan sumber daya.
c. Mengembangkan pedoman pelaksanaan KADARZI sesuai kondisi lokal.
d. Mengembangkan kerjasama dengan lintas program, lintas sektor, perguruan tinggi, organisasi profesi dan LSM serta membina kemitraan dengan dunia usaha.
e. Melaksanakan penyebarluasan informasi secara berkelanjutan melalui berbagai media baik elektronik, cetak maupun media tradisional, misalnya : penayangan TV dan radio spot, pembuatan billboard, pameran pembangunan, penyebarluasan poster, leaflet dan flyer, sarasehan, dll.
f. Melakukan pelatihan KADARZI dan pendampingan bagi petugas kabupaten dan puskesmas.
g. Melakukan pemantauan dan evaluasi.
h. Mendorong terwujudnya peraturan-peraturan pemerintah yang mendukung KADARZI
17
3. Tingkat kabupaten/kota
a. Menyusun perencanaan kegiatan untuk pencapaian sasaran KADARZI baik melalui APBN, APBD maupun sumber lain.
b. Melaksanakan advokasi, sosialisasi dan penyebaran informasi secara berkesinambungan untuk mendapatkan dukungan, kebijakan dan sumber daya.
c. Mengembangkan kerjasama dengan lintas program, lintas sektor, perguruan tinggi, organisasi profesi dan LSM serta membina kemitraan dengan dunia usaha.
d. Melaksanakan pelatihan petugas kecamatan/puskesmas dan kader.
e. Melaksanakan penyebarluasan informasi secara berkelanjutan melalui berbagai media baik elektronik, cetak maupun media tradisional, misalnya : penayangan TV dan radio spot, pembuatan billboard, pameran pembangunan, penyebarluasan poster, leaflet dan flyer, sarasehan, dll.
f. Memfasilitasi proses rujukan kasus gizi buruk sesuai prosedur, misalnya memberikan penjelasan bahwa perawatan gizi buruk untuk keluarga miskin dibiayai oleh Askeskin.
g. Melaksanakan pemantauan, pembinaan dan bimbingan teknis dan evaluasi.
4. Tingkat kecamatan/puskesmas
a. Mengkoordinir pertemuan lintas sektor dan program tingkat kecamatan untuk mempersiapkan pertemuan tingkat desa/kelurahan di setiap desa/kelurahan.
b. Mengkoordinir lintas sektor dan program untuk menghadiri pertemuan tingkat desa/kelurahan.
c. Memfasilitasi pelaksananaan pertemuan tingkat desa/kelurahan, Survei Mawas Diri (SMD) dan Musyawarah Masyarakat Desa/Kelurahan (MMD/K).
d. Melaksanakan orientasi dan pelatihan kader dan kader pendamping keluarga.
e. Melakukan pembinaan kegiatan Gizi di Pos Kesehatan Desa.
f. Melakukan pembinaan tenaga pendamping keluarga.
g. Melakukan pelayanan rujukan dan melakukan tatalaksana gizi buruk di puskesmas perawatan.
h. Mencatat, mengolah dan melaporkan hasil kegiatan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan ke Camat.
5. Tingkat desa/kelurahan
a. Melakukan Pertemuan Tingkat Desa/Kelurahan
Pertemuan Tingkat Desa/Kelurahan merupakan forum pertemuan yang dihadiri oleh para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, kader Poskesdes, perangkat desa/kelurahan dan dihadiri oleh petugas puskesmas dan lintas sektor tingkat kecamatan. Pertemuan tersebut sebagai upaya pengembangan dan 18
pemberdayaan masyarakat dibidang gizi/kesehatan. Di dalam pertemuan dibahas masalah-masalah gizi/kesehatan yang ada di desa/kelurahan dan langkah-langkah tindak lanjut yang diperlukan.
Hasil yang diharapkan dalam pertemuan ini adalah:
1). Dipahaminya masalah gizi dan hubungannya dengan kesehatan.
2). Diperolehnya dukungan pamong dan pemuka masyarakat guna memecahkan masalah gizi dan kesehatan tersebut.
3). Disepakatinya rencana kegiatan Survei Mawas Diri (SMD) khusus gizi/pengamatan sederhana untuk mengetahui besaran masalah gizi, penyebab dan sumber daya yang dimiliki.
4). Terbentuknya kelompok kerja untuk melaksanakan SMD yang dapat terdiri dari perangkat desa, tokoh masyarakat dan kader Poskedes.
b. Melaksanakan Survei Mawas Diri (SMD)
Survei Mawas Diri (SMD) merupakan kegiatan pengkajian masalah gizi oleh kelompok kerja yang sudah terbentuk dengan bimbingan petugas puskesmas. Tujuan SMD adalah untuk identifikasi masalah-masalah gizi serta daftar potensi di desa/kelurahan yang dapat didayagunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Pelaksanaan SMD dapat diintegrasikan dengan pelaksanaan SMD lain dalam pengembangan desa siaga.
Beberapa informasi gizi yang penting untuk dikumpulkan pada saat SMD antara lain:
1). Data penimbangan balita, untuk mengetahui balita yang tidak pernah/tidak rutin ditimbang di posyandu dan status pertumbuhannya (SKDN) yaitu: berat badan tidak naik dua kali (2 T), BGM, gizi buruk kasus baru dan gizi buruk pasca perawatan.
2). Data ibu hamil anemia dan ibu hamil sangat kurus (KEK)
3). Data ibu yang mempunyai bayi 0-6 bulan.
4). Data keluarga yang belum menggunakan garam beryodium
5). Data balita 6-59 bulan yang belum mendapat kapsul vitamin A selama 6 bulan terakhir.
6). Data ibu hamil yang belum mengkonsumsi tablet tambah darah.
7). Keluarga yang belum makan beraneka ragam.
Data SMD diolah dan dianalisis secara sederhana, meliputi: jumlah keluarga dengan bayi, anak balita, ibu hamil, dan ibu menyusui; permasalahan gizi; cakupan Posyandu; dll, sebagai bahan pembahasan pada pertemuan Musyawarah Masyarakat Desa/Kelurahan (MMD/K).
c. Melaksanakan Musyawarah Masyarakat Desa/Kelurahan (MMD/K)
Musyawarah Masyarakat Desa/Kelurahan (MMD/K) adalah forum pertemuan yang dihadiri oleh perangkat desa/kelurahan, tokoh masyarakat, pemuka adat, kader, masyarakat umum dan dihadiri oleh petugas puskesmas/kecamatan. Tujuan penyelenggaraan
19
MMD/K adalah mencari alternatif pemecahan masalah gizi di desa/kelurahan tersebut. MMD/K sebaiknya dilaksanakan sebelum Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrenbang) desa agar kegiatan yang telah disusun penganggarannya dapat diusulkan melalui mekanisme yang ada.
Proses MMD/K dapat diatur sebagai berikut;
1). Kepala desa/Lurah membuka pertemuan dan menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan.
2). Kader penyelenggara SMD (didampingi petugas puskesmas) menyampaikan hasil SMD, dilanjutkan dengan tanya jawab.
3). Kepala desa/Lurah membuka tanya jawab berkaitan dengan hasil SMD. Bila diperlukan petugas puskesmas dapat memberikan penjelasan lebih lanjut tentang masalah-masalah yang ditemukan didalam SMD.
4). Diskusi penyusunan alternatif pemecahan masalah yang terdiri antara lain:
a). Menyusun rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam 1 (satu) tahun, misalnya peningkatan atau penambahan jumlah posyandu, pemilihan kader, pertemuan penyuluhan rutin, pendampingan keluarga/kunjungan rumah, PMT Penyuluhan, dll)
b). Menentukan penanggung jawab kegiatan dan sumber dana/sarana yang diperlukan
d. Melaksanakan kegiatan di desa/kelurahan
Kegiatan perbaikan gizi di tingkat desa/kelurahan dilaksanakan secara berkesinambungan melibatkan masyarakat, kader, bidan di desa (Poskesdes) dan Puskesmas.
Langkah-langkah kegiatan di tingkat desa/kelurahan adalah sebagai berikut:
1). Orientasi/pelatihan kader yang dikoordinir oleh petugas puskesmas.
2). Peningkatan cakupan posyandu:
Kegiatan Posyandu terdiri dari pemantauan pertumbuhan balita konseling gizi, Suplementasi gizi (kapsul vitamin A dan tablet tambah darah), dan pelayanan kesehatan dasar yang terdiri dari imunisasi, pemeriksaan kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana dan penanggulangan diare.
Untuk meningkatkan cakupan posyandu contoh kegiatan yang dilakukan dapat meliputi :
a). Melengkapi sarana/prasarana Posyandu
b). Pendataan sasaran Posyandu
c). Penyebarluasan kegiatan Posyandu sebelum hari H
d). Kunjungan rumah kepada keluarga yang balitanya tidak dibawa ke Posyandu
e). Penyuluhan gizi di posyandu
f). PMT-penyuluhan
g). Membentuk Posyandu baru di wilayah yang belum terjangkau.
20
3). Penyuluhan gizi
a). Demo memasak makanan bergizi
b). Diskusi Kelompok Terarah bagi kelompok ibu-ibu, ayah, remaja tentang gizi terkait 5 perilaku sadar gizi
c). Penyebarluasan informasi melalui institusi keagamaan, sekolah, tempat-tempat umum, warung, dll.
4). Tindak lanjut pemantauan pertumbuhan
a). Anak yang berat badan tidak naik 1 kali perlu di berikan penyuluhan yang intensif.
b). Anak yang berat badannya tidak naik 2 kali, BGM atau sakit perlu dirujuk ke petugas kesehatan (Poskesdes, Puskesmas)
5). Pendampingan Keluarga
Pendampingan keluarga adalah proses mendorong, menyemangati, membimbing dan memberikan kemudahan keluarga oleh kader pendamping guna mengatasi masalah gizi yang dialami.
Prioritas keluarga yang perlu didampingi adalah:
a). Keluarga dengan balita BGM, berat badannya 2 kali tidak naik setelah dikonfirmasi oleh petugas kesehatan (poskesdes/puskesmas)
b). Keluarga dengan anak gizi buruk yang dinyatakan sembuh oleh petugas kesehatan tetapi perlu perawatan di rumah perlu didampingi.
c). Keluarga dengan bayi usia 0-6 bulan
d). Keluarga dengan ibu hamil sangat kurus dan pucat setelah dikonfirmasi oleh petugas kesehatan.
Langkah-langkah dan cara pendampingan dapat dilihat pada Pedoman Pendampingan Keluarga Menuju KADARZI (Depkes, 2007).
e. Pelaksanaan kegiatan di Pos Kesehatan Desa
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) merupakan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa/kelurahan dalam rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa/kelurahan. Pelayanan Poskesdes meliputi upaya promotif, preventif dan kuratif yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan (terutama bidan) dengan dibantu oleh minimal dua orang kader atau tenaga sukarela lainnya.
Kegiatan gizi di Poskesdes meliputi:
a). Penentuan status gizi secara antropometri dan klinis untuk konfirmasi kasus balita gizi buruk yang dirujuk dari posyandu dan menentukan tindak lanjut sesuai dengan tatalaksana kasus gizi buruk.
b). Penanganan balita Bawah Garis Merah (BGM) dan gizi kurang
c). Konseling Gizi
d). Rujukan Kasus (baik kasus dari posyandu maupun dari keluarga/masyarakat). Rujukan dari posyandu meliputi balita 21
dengan BB tidak naik dua kali berturut-turut, balita BGM dan balita sakit. Apabila Poskesdes tidak mampu menangani rujukan dari masyarakat, maka dilanjutkan ke puskesmas sebagai pelayanan kesehatan yang lebih tinggi. Di samping kegiatan tersebut, Poskesdes juga bertanggung jawab dalam hal membina, memantau kegiatan rutin posyandu dan kegiatan pendampingan keluarga. Kegiatan lain Poskesdes yaitu menindaklanjuti balita kasus gizi buruk pasca rawat inap.
Penjelasan alur kegiatan pemberdayaan masyarakat menuju KADARZI dapat dilihat pada gambar 1.
B. Kelembagaan
Keberhasilan KADARZI akan sangat tergantung pada kerjasama lintas sektor diberbagai tingkatan administrasi. Pada tingkat nasional kegiatan KADARZI dikoordinasikan oleh Departemen Kesehatan; dan pada tingkat provinsi, kabupaten/kota dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan yang dalam pelaksanaannya dilakukan bersama dengan kelembagaan yang ada dan terkait seperti: Pokjanal Posyandu, Dewan Ketahanan Pangan, Tim Pangan dan Gizi, Instansi Pemberdayaan Masyarakat, Tim Penggerak PKK, dll. Jika diperlukan dapat dibentuk kelompok kerja pada setiap tingkatan.
22
IV. PEMANTAUAN DAN EVALUASI KADARZI
A. Pemantauan
Pemantauan dilakukan secara berjenjang dan terus menerus. Pemantauan dari tingkat kecamatan/puskesmas ke desa/kelurahan dilakukan setiap bulan. Pemantauan dari kabupaten/kota ke kecamatan/puskesmas dan dari propinsi ke kabupaten/kota dilakukan setiap 3 bulan. Hal-hal yang dipantau di berbagai tingkat administrasi adalah sebagai berikut:
1. Pemantauan tingkat kecamatan ke desa/kelurahan
Tenaga Gizi Puskesmas melakukan pemantauan terhadap:
a. Sarana dan prasarana di Poskesdes
b. Sarana dan prasarana di Posyandu
c. Kegiatan di Poskesdes
d. Kegiatan di Posyandu
e. Kegiatan masyarakat di desa/kelurahan
Untuk memantau pelaksanaan kegiatan perbaikan gizi di tingkat desa/kelurahan dapat dipergunakan format formulir pada lampiran 1.
2. Pemantauan tingkat kabupaten ke kecamatan
Tim Kabupaten melakukan pemantauan melalui pengamatan langsung ke Puskesmas dan melihat catatan pembinaan Puskesmas ke desa/kelurahan. Hal-hal yang dipantau meliputi:
a. Sarana dan prasarana di Puskesmas
b. Kegiatan di Puskesmas
c. Kegiatan masyarakat desa/kelurahan di wilayah kerja Puskesmas
d. Hasil kegiatan (cakupan)
Untuk memantau pelaksanaan kegiatan perbaikan gizi tingkat kecamatan dapat dipergunakan format formulir pada lampiran 2.
3. Pemantauan provinsi ke kabupaten/kota
Pemantauan dari provinsi ke kabupaten meliputi tugas-tugas kabupaten dalam pembinaan dan pengembangan Keluarga Sadar Gizi sesuai dengan yang tertuang dalam bab III buku ini.
23
B. Evaluasi
Evaluasi dilakukan setiap tahun secara berjenjang oleh kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan pusat dengan memantau pencapaian indikator KADARZI.
Sumber data dan pelaksana evaluasi adalah sebagai berikut:
1. Indikator balita ditimbang secara teratur didasarkan pencatatan kegiatan posyandu (SIP dan SKDN).
2. Data ibu yang memberikan ASI eksklusif kepada bayi sejak lahir hingga 6 bulan didapat berdasarkan catatan ASI eksklusif pada KMS atau kohort bayi.
3. Data cakupan suplementasi kapsul vitamin A pada balita 6-59 bulan didasarkan pada laporan distribusi kapsul vitamin A setiap 6 bulan (SIP dan kohor anak).
Evaluasi untuk point 1-3 dilakukan oleh tingkat Kecamatan dan Kabupaten/Kota.
4. Untuk evaluasi tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota terhadap 5 (lima) indikator KADARZI akan diintegrasikan dengan pelaksanaan PSG yang diadakan setiap tahun.
24
25
V. PENUTUP
Buku pedoman ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi pelaksana program di berbagai daerah agar dapat menyamakan persepsi dan percepatan perwujudan KADARZI di seluruh Indonesia. Dengan adanya Pedoman ini diharapkan semua kegiatan yang menunjang KADARZI di berbagai jenjang administrasi dapat berjalan secara berkesinambungan sehingga meningkatkan kemudahan masyarakat Indonesia memperoleh informasi KADARZI dan pelayanan gizi yang berkualitas. Buku pedoman operasional KADARZI ini bertujuan agar seluruh keluarga berperilaku sadar gizi. Pedoman ini dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat tetapi tetap mengacu pada pencapaian sasaran KADARZI.
Buku ini diakui masih banyak kekurangan, dan tidak mungkin dapat menampung semua permasalahan dan cara mengatasinya di lapangan. Oleh karena itu masukan yang bermanfaat bagi penyempurnaan pedoman ini sangat diperlukan.
26
�� PPeemmaannttaauuaann ppeerrttuummbbuuhhaann
�� PPeennyyuulluuhhaann ggiizzii // PPMMTT ppeennyyuulluuhhaann
�� SSuupplleemmeennttaassii ggiizzii
�� PPeellaayyaannaann kkeesseehhaattaann
�� PPeennccaattaattaann
�� PPeenneennttuuaann ssttaattuuss ggiizzii ((BBBB//PPBB //TTBB,, kklliinniiss))
�� PPeennaannggaannaann bbaalliittaa BBGGMM
�� KKoonnsseelliinngg ggiizzii
�� RRuujjuukkaann kkaassuuss
�� PPeennccaattaattaann ddaann ppeellaappoorraann
KKeelluuaarrggaa mmeenneerraappkkaann ppeerriillaakkuu ssaaddaarr ggiizzii
�� TTaattaallaakkssaannaa ggiizzii bbuurruukk ddaann bbaalliittaa ssaakkiitt
�� PPeerrtteemmuuaann kkoooorrddiinnaassii
�� PPeemmbbiinnaaaann ppoosskkeessddeess,, ppoossyyaanndduu
�� PPeennccaattaattaann ddaann ppeellaappoorraann
•• BBaalliittaa 22TT,, BBGGMM,, ssaakkiitt
•• IIbbuu hhaammiill aanneemmiiaa,, ssaannggaatt kkuurruuss
�� PPeerrtteemmuuaann ttiinnggkkaatt DDeessaa//KKeell
�� SSMMDD
�� MMMMDD//KK
�� PPeennyyuulluuhhaann ggiizzii
�� PPeerrtteemmuuaann KKeelloommppookk KKeerrjjaa KKAADDAARRZZII
MASYARAKAT
KELUARGA
POSYANDU
BB naik (N)
Gizi buruk
POSKESDES
PUSKESMAS
Balita 1T
�� MMPP--AASSII
�� PPMMTT PPeemmuulliihhaann
�� NNaasseehhaatt GGiizzii
PPeennddaammppiinnggaann kkeelluuaarrggaa
Gizi kurang
Perawatan di rumah
Gambar 1. Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat Menuju KADARZI
Formulir 1.
PEMANTAUAN KEGIATAN KADARZI TINGKAT DESA/KELURAHAN
Jumlah Posyandu yang aktif
:
Kecamatan
:
Jumlah Posyandu yang ada
:
Kabupaten/Kota
:
Desa/Kelurahan
:
Provinsi
Jumlah
Indikator
Kebutuhan
Tersedia
Keterangan
A.
Sarana dan Prasarana di Poskesdes*)
1. Alat Antropometri:
a. Alat ukur panjang badan (PB)
b. Timbangan Balita
c. Microtoise
d. Pita Lingkar Lengan Atas (LILA)
2. Alat peraga bahan bahan makanan
3. Alat bantu konseling menyusui
4. Buku Pedoman Operasional KADARZI
5. Buku Pedoman Pendampingan KADARZI
6. Buku Saku Pendamping Keluarga
7. Bidan
8. Kader Pendamping Keluarga
9. Dukungan dana (diisi tanda √)
a. Masyarakat
b. LSM
c. Donatur
d. Swasta
B.
Sarana dan Prasarana di Posyandu*)
1. Dacin dan sarung timbang
2. KMS
3. Buku Pedoman Kader
4. Buku Register
5. Lembar Balik
6. Formulir F1 Gizi
7. Suplemen Gizi:
a. Kapsul Vit. A dosis tinggi warna merah
b. Kapsul Vit. A dosis tinggi warna Biru
c. Tablet Tambah Darah
d. MP-ASI
8. Iodina test
9. Kader Posyandu **)
C.
Kegiatan di Poskesdes
Jumlah
Keterangan
1. Balita yang dirujuk dari Posyandu
2. Balita yang dirujuk dari masyarakat
3. Balita dirujuk ke Puskesmas
4. Bayi (6-24 bln) Gakin yang dapat MP-ASI
5. Frekwensi penyuluhan gizi
6. Frekwensi demo masak
27
Indikator
Jumlah
Keterangan
D.
Kegiatan di Posyandu
1. Penimbangan Balita
a. Seluruh Balita yang ada (S)
b. Seluruh Balita yang mempunyai KMS (K)
c. Seluruh Balita yang ditimbang (D)
d. Seluruh Balita yang naik berat badannya (N)
e. Balita tidak naik 1 kali (1 T)
f. Balita tidak naik 2 kali (2 T)
g. Balita BGM
2. Pemberian suplemen gizi
a. Kapsul vitamin A (biru, bayi 6-11 bln)
b. Kapsul vitamin A (merah, balita)
c. Kapsul vitamin A (ibu nifas)
d. Tablet Tambah Darah (ibu hamil)
3. Balita dirujuk ke Poskesdes
4. Balita dirujuk ke Puskesmas
5. Balita yang mendapat PMT pemulihan
6. Bayi (6-24 bln) Gakin yang dapat MP-ASI
7. Frekwensi penyuluhan gizi
8. Frekwensi demo masak
E.
Kegiatan di Tingkat Desa/kelurahan
Ya
Tidak
Keterangan
1. Pertemuan tingkat desa
2. SMD
3. Musyawarah Masyarakat Desa/Kelurahan (MMD/K)
4. Diskusi Kelompok Terarah (DKT)
5. Pendampingan keluarga sasaran
a. Daftar keluarga sasaran
b. Daftar pembagian tugas pendampingan (kader)
6. Pertemuan Pokja KADARZI
7. Pencatatan dan pelaporan
8. Pemantauan
Keterangan :
**) Kesesuaian jumlah kader yang seharusnya ada di setiap Posyandu (1 Posyandu = 5 kader)
28
HASIL DISKUSI LAPANGAN TINGKAT DESA/KELURAHAN
Masalah Utama :
1. ..........................................................................................................
2. ..........................................................................................................
3. ..........................................................................................................
4. ..........................................................................................................
5. ..........................................................................................................
Alternatif Pemecahan :
1 ..........................................................................................................
2 ..........................................................................................................
3 ..........................................................................................................
4 ..........................................................................................................
5 ..........................................................................................................
29
Formulir 2
PEMANTAUAN KEGIATAN KADARZI DI TINGKAT KECAMATAN/PUSKESMAS
Kecamatan
:
Kabupaten/Kota
:
Provinsi
:
Jumlah Desa/Kelurahan
:
Jumlah Desa Siaga
:
Jumlah Posyandu
:
Jumlah Posyandu Aktif
:
Jumlah
Indikator
Kebutuhan
Tersedia
Keterangan
A.
Sarana dan Prasarana Puskesmas
1. Alat Antropometri:
a. Alat ukur panjang badan (PB)
b. Timbangan Dewasa
c. Microtoise
d. Timbangan bayi
e. Pita Lingkar Lengan Atas (LILA)
2. Formulir-formulir (F/III Gizi, Register, dll)
3. Buku Pedoman Operasional KADARZI
4. Buku Pedoman Pendampingan KADARZI
5. Suplemen gizi
a. Kapsul vitamin A biru
b. Kapsul vitamin A merah
c. Tablet Tambah Darah
d. Makanan Pendamping ASI untuk GAKIN
e. PMT pemulihan
6. Dukungan dana
a. APBN
b. APBD
c. LSM / Masyarakat
d. Donatur
e. Swasta
7.Tenaga :
a. D1 Gizi
b. D3 Gizi
c. S1 Gizi atau lainnya
30
Indikator
Jumlah
Keterangan
B.
Penyediaan Data dan Informasi
N %
1. Cakupan penimbangan balita
- K/S (cakupan program)
S=..........
- D/S ( partisipasi masyarakat)
K=..........
- N/D (keberhasilan penimbangan)
D=.........
- N/S (Keberhasilan program)
N=.........
2. ASI eksklusif 0-6 bulan
- ASI eksklusif 0 bulan (E0)
n bayi o bulan = ...
- ASI eksklusif 1 bulan (E1)
n bayi 1 bulan = ...
- ASI eksklusif 2 bulan (E2)
n bayi 2 bulan = ...
- ASI eksklusif 3 bulan (E3)
n bayi 3 bulan = ...
- ASI eksklusif 4 bulan (E4)
n bayi 4 bulan = ...
- ASI eksklusif 5 bulan (E5)
n bayi 4 bulan = ...
- ASI eksklusif 6 bulan (E6)
n bayi 5 bulan = ...
3. Konsumsi garam beryodium*)
4. Bayi 6-11 bulan dapat kapsul vitamin A biru
5. Anak 12-59 bulan dapat vitamin A merah
6. Ibu nifas dapat kapsul vitamin A merah 2 x
7. Ibu hamil dapat TTD 90 tablet
8. Balita dengan masalah gizi yang dirujuk
n balita yang perlu dirujuk
9. Balita pasca rawat inap
n balita yang dirujuk
C.
Kegiatan di Tingkat Kecamatan
Ya
Tidak
Keterangan
1. Pertemuan koordinasi tingkat kecamatan
2. Perencanaan, pembinaan dan pemantauan tenaga pendamping keluarga
3. Peningkatan kapasitas kader pendamping
4. Perencanaan pelaksanaan kegiatan terkait KADARZI
a. Pertemuan tingkat desa/kelurahan
b. Survey Mawas Diri
c. Musyawarah Masyarakat Desa/Kelurahan
d. Diskusi Kelompok Terarah
e. Kegiatan lain .....
5. Melakukan perawatan balita gizi buruk
6. Pencatatan dan pelaporan
7. Pemantauan dan evaluasi
31
HASIL DISKUSI LAPANGAN TINGKAT KECAMATAN/PUSKESMAS
Masalah Utama :
1 ..........................................................................................................
2 ..........................................................................................................
3 ..........................................................................................................
4 ..........................................................................................................
5 ..........................................................................................................
Alternatif Pemecahan :
1 ..........................................................................................................
2 ..........................................................................................................
3 ..........................................................................................................
4 ..........................................................................................................
5 ..........................................................................................................
32

JUKNIS ASI EKSKLUSIF

PETUNJUK PELAKSANAAN PENINGKATAN ASI EKSKLUSIF
BAGI PETUGAS PUSKESMAS
DEPARTEMEN KESEHATAN, DIREKTORAT JENDERAL BINKESMAS, DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT
JAKARTA, 1997

I. PENDAHULUAN

Upaya Perbaikan Gizi (UPGK) yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat, diprioritaskan pada kelompok masyarakat risiko tinggi yaitu golongan bayi, balita, usia sekolah, remaja, ibu hamil dan ibu menyusui serta usia lanjut. Upaya tersebut dilakukan secara terintegrasi dengan penanggulangan kemiskinan secara nasional.
UPGK perlu dilakukan secara terpadu, lintas program dan lintas sektor agar lebih berdaya guna dan berhasil guna sehingga dapat terlaksananya kegiatan secara nyata dan bertanggung jawab dengan memperhatikan faktor epidemiologi, geografri, sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat.
Pemberian ASI secara eksklusif dapat mempercepat penurunan angka kematian bayi dan sekaligus meningkatkan status gizi balita yang pada akhirnya akan meningkatkan status gizi masyarakat menuju tercapainya kualitas sumber daya manusia yang memadai.
Masalah pelaksanaan ASI eksklusif masih memprihatinkan. data dari survey demografi kesehatan indonesia (SDKI) tahun 1994 menunjukkan bahwa ibu-ibu yang memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif kepada bayinya baru mencapai 47%. Sedangkan dalam Repelita VI diatargetkan 80%. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mencapai target yang telah ditetapkan dalam Repelita VI tersebut, masih banyak upaya yang harus dilakukan.
Dukungan politis dari pemerintah terhadap peningkatan penggunaan ASI termasuk ASI Eksklusif sebenarnya telah memadai. Hal ini terbukti dengan telah dicanangkannya GNPP-ASI (Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu) oleh Bapak Presiden pada Hari Ibu tanggal 22 Desember 1990 bertemakan “Dengan ASI, Kaum Ibu Mempelopori Peningkatan Kualitas Manusia Indonesia”. Oleh karenanya perlu dilakukan upaya mensukseskan peningkatan penggunaan ASI secara lebih sungguh-sungguh dan berkesinambunag.
Untuk membantu pelaksanaan kegiatan peningkatan penggunaan ASI di masyarakat, diperlukan pedoman bagi petugas kesehatan, di tingkat puskesmas yang memuat secara terinci tentang kegiatan yang harus dilaksanakan dalam rangka peningkatan pemberian ASI Eksklusif, khususnya kegiatan pemantauan dan tindak lanjut yang harus dilakukan berdasarkan hasil tersebut.

II. PELAKSANAAN PENINGKATAN ASI EKSKLUSIF

A. PENGERTIAN

ASI Eksklusif adalah perilaku dimana kepada bayi sampai dengan umur 4 (empat) bulan hanya diberikan Air Susu Ibu (ASI) saja, tanpa makanan dan atau minuman lain kecuali sirup obat.

B. TUJUAN

Tujuan dari kegiatan ini adalah:
1. Diperolehnya peningkatan pengetahuan dan kemampuan petugas kesehatan di tingkat puskesmas dalam upaya meningkatkan penggunaan ASI di masyarakat.
2. Diperolehnya perubahan perilaku gizi masyarakat untuk selalu memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya sampai umur 4 bulan
3. Diperolehnya peningkatan angka ASI Eksklusif secara nasional menjadi 80% pada tahun 2000.

C. KEGIATAN

Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kegiatan sebagai berikut:

1. Pengamatan situasi

Pengamatan situasi dilakukan melalui pengumpulan data pencapaian ASI Eksklusif, latar belakang budaya setempat, sumber daya dan sarana di puskesmas dan kelompok di tingkat kecamatan.

a. Pencapaian ASI Eksklusif
Data yang dikumpulkan adalah pencapaian ASI Eksklusif, diperoleh melalui register kohort balita dan anak pra sekolah yang tersedia di puskesmas.

Langkah-langkah kegiatan:
• merekap jumlah bayi yang mendapat ASI Eksklusif tingkat kecamatan
• memberikan penyuluhan/pembinaan pada kader dalam GNPP-ASI
• penghitungan prosentase cakupan AE1, AE2, AE3 dab AE4 berdasarkan data kohort balita dan anak pra sekolah
• membuat grafik
• menginformasikan data tersebut kepada forum lintas program, lintas sektor terkait, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lembaga swadaya masyarakat setempat.

b. Latar belakang budaya setempat
Selain data teknis seperti pada butir (a) di atas, perlu juga diketahui data latar belakang budaya setempat mengenai ASI Eksklusif. Data yang dikumpulkan meliputi persepsi, kebiasaan, dan pola pemberian makan bayi dari masyarakat setempat. Petugas melakukan pengamatan tentang persepsi, kebiasaan dan pola pemberian makan bayi dari masyarakat setempat. Data ini diperoleh melalui wawancara secara insidentil terhadap beberapa ibu balita atau lainnya yang sedang berkunjung ke posyandu, pada saat petugas melakukan pembinaan. Jika dijumpai salah persepsi dari masyarakat misalnya ibu tidak memberikan ASI Eksklusif, ibu menghentikan ASI karena anak sakit, bayi diberi susu botol dsb. maka petugas perlu memberikan penyuluhan dan pembinaan tentang pentingnya ASI Eksklusif bagi pertumbuhan dan perkembangan balita.

c. Sumberdaya dan sarana
Disamping data di atas, juga dikumpulkan data penunjang seperti sumberdaya dan sarana yang ada di daerah. Data yang dikumpulkan meliputi biaya, jumlah dan macam tenaga, serta media penyuluhan yang tersedia di Puskesmas. Sumberdaya yang ada antara lain tenaga gizi puskesmas (TPG), Bidan atau perawat, PKK dan LSM. Sarana yang ada antara lain leaflet, booklet, dan poster yang berkaitan dengan ASI Eksklusif yang dapat dimanfaatkan untuk penyuluhan/pembinaan.

d. Kelompok-kelompok potensial
Tenaga gizi Puskesmas harus mengatahui kelompok potensial yang dapat digunakan sebagai sasaran yang strategis dalam memberikan penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat. Kelompok ini mempunyai potensi yang cukup besar dalam memsukseskan program, oleh karena itu perlu diciptakan kerjasama yang baik antara petugas puskesmas dan kelompok potensial yang ada di kecamatan. Kelompok potensial di tingkat kecamatan antara lain PKK, Kelompok Wanita Tani (KWT) Karang Taruna, Kelompok Arisan dan Pengajian.

2. Penyebarluasan hasil pengamatan situasi

Data ASI Eksklusif, latar belakang budaya, sumberdaya dan sarana, dan kelompok potensial diinformasikan kepada berbagai pihak baik lintas program, lintas sektor terkait dalam pertemuan yang terpadu. Cara penyajian hasil dengan menggunakan grafik, peta dan diagram. Dari pertemuan tersebut diharapkan dapat dihasilkan kesepakatan tentang berbagai kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap program/sektor atau LSM, sehingga mereka dapat berpartisipasi untuk mempercepat pencapaian tujuan program ASI Eksklusif di Puskesmas. Melalui pertemuan tersebut juga dapat diketahui masalah yang ada dan cara pemecahannya.

3. Kegiatan Intervensi

a. Pendekatan kepada tokoh masyarakat

1). Advokasi atau pendekatan kepada pemimpin
Pendekatan kepada para pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama di daerah setempat diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan KIE dalam masyarakat tentang pentingnya ASI bagi tumbuh kembang dan kecerdasan anak.

Tujuan: Agar tokoh masyarakat mengetahui dan berperan aktif dalam menggerakkan masyarakat sasaran melalui komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) sehingga pencapaian ASI Eksklusif meningkat.

2). Orientasi

Tujuan: Agar tokoh masyarakat dan tokoh agama memperoleh kesamaan persepsi tentang peranan ASI dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.
Untuk orientasi dapat dilakukan sebagai berikut:
• lama orientasi 2-3 jam, terdiri dari penyampaian materi dan tanya jawab
• sarana orientasi meliputi: poster dan leaflet tentang pentingnya ASI Eksklusif dan bahaya pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) terlalu dini dan terlalu lambat
• materi orientasi meliputi beberapa aspek, diantaranya: dukungan politis pemerintah terhadap ASI Eksklusif (pencanangan penggunaan ASI oleh Bapak Presiden Suharto pada tanggal 22 Desember 1990 dengan tema: “Dengan ASI kaum ibu mempelopori peningkatan kualitas manusia Indonesia”

b. Pemberdayaan Bidan di Desa, Petugas Puskesmas dan Kader
Pemberdayaan bidan di desa dan kader dapat dilakukan melalui pelatihan guna meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam menyebarluaskan PP-ASI.

1) Pelatihan

a). Petugas Puskesmas dan Bidan di Desa

Tujuan:
(1) meningkatkan pengetahuan petugas puskesmas (tenaga pelaksana gizi/TPG) dan bidan di desa dalam memantau pemberian ASI Eksklusif

(2) melakukan penyuluhan yang tepat dan efektif sesuai hasil pemantauan

Upaya tersebut antara lain dapat dilakukan melalui:
• pengamatan situasi/latar belakang masalah sosial budaya setempat
• cara/teknik pelatihan menggunakan cara belajar orang dewasa, a.l. menggali informasi dari para peserta pelatihan tentang masalah pemberian ASI yang mereka ketahui dilapangan
• persamaan persepsi tentang cara menyusui yang baik dan benar, pentingnya kolostrum bagi kesehatan bayi dan bahayanya memberikan makanan pralakteal bagi bayi
• persamaan persepsi tentang indikator dan pemantauan ASI Eksklusif
• tanya jawab

b) Kader

Tujuan:
(1) meningkatkan pengetahuan kader dalam pemantauan kecenderungan pemberian ASI Eksklusif
(2) melakukan penyuluhan sederhana

Kepada kader diberikan pengetahuan PP-ASI seperti di atas dengan kedalaman materi yang sederhana sesuai dengan kemampuan dan tugas kader di lapangan.

2) bimbingan teknis
Tujuan: memperoleh gambaran hasil kegiatan penyuluhan dan pemantauan kegiatan PP-ASI sehingga dapat dilakukan penyesuaian dan perbaikan yang diperlukan yang diperlukan.
Bimbingan teknis dilakukan secara berjenjang dari Puskesmas pembantu, desa dan posyandu.

Hal-hal yang harus dibina:
• persamaan persepsi tentang indikator untuk pemantauan dan cara analisis pelaporan
• ketersediaan media KIE tentang ASI

c. Pemberdayaan masyarakat
Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain melalui penyuluhan massal, penyuluhan keluarga, penyuluhan kelompok dan penyuluhan perorangan:

1) Penyuluhan massal
Penyuluhan massal dilakukan dengan memanfaatkan sarana/budaya yang ada di masyarakat, seperti:
• media tradisional, dengan memanfaatkan budaya setempat, seperti; wayang, lenong, srimulat, dll
• media cetak, misalnya, tabloit dengan menggunakan bahasa lokal
• media elektonika, seperti radio, televisi (bila memungkinkan)

2) Penyuluhan keluarga
Dalam melakukan penyuluhan keluarga mencakup semua anggota keluarga yang berpengaruh terhadap ibu seperti: Ayah, ibu, anak, anggota keluarga lainnya (pengasuh anak, kakek, nenek, mertua).

3) Penyuluhan kelompok
Untuk penyuluhan kelompok dapat dilakukan pada:
• Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
• PKK
• Organisasi Wanita, misalnya Dharma Pertiwi, Dharma Wanita, dll
• Kelompok khusus seperti, arisan, pengajian, dll.

4) Penyuluhan perorangan
Penyuluhan perorangan dapat dilakukan kepada:
• Ibu-ibu balita
• Tokoh: Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dll
• Pamong: Kepala dusun, Kepala desa, Camat, dll.
• Petugas: Kesehatan, BKKBN, Pertanian, Guru, dll
• Swasta dan pengusaha

Isi materi penyuluhan a.l:
• manfaat ASI Eksklusif bagi tumbuh kembang dan kecerdasan anak
• pentingnya kolostrum bagi kesehatan bayi
• pemberian ASI penting untuk kesehatan ibu, misalnya dapat menghindari kanker payudara dan untuk menjarangkan kehamilan (KB)
• meningkatkan kasih sayang antara ibu dan bayi
• bagi wanita pekerja, usahakan tetap memberikan ASI pada anaknya dengan cara khusus
• tidak memberikan makanan pralakteal

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan penyuluhan pada ibu hamil a.l:
• mengikut sertakan suami dan anggota keluarga lain yang berpengaruh seperti kakek, nenek, mertua, pengasuh anak, dll.

• informasikan kepada ibu hamil, jangan melakukan pengurutan payudara secara berlebihan
• lakukan pemeriksaan terhadap kelainan payudara misalnya puting datar dan puting tenggelam.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu memberikan penyuluhan a.l:
• penggunaan materi KIE yang tepat
• menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh masyarakat
• melakukan persiapan tempat/ruangan
• memasang poster/leaflet di tempat yang mudah dilihat
• pesan-pesan gizi disesuaikan dengan umur bayi
• bagi ibu yang perilakunya sudah baik dalam memberikan ASI diberi pujian dan bagi yang belum sesuai diberi pengertian cara yang persuasif.

III. PEMANTAUAN ASI EKSKLUSIF

1. Indikator pemantauan
Dalam pemantauan ini pemberian ASI Eksklusif digunakan kode sebagai berikut:

AE1 = Apabila sampai berumur 1 bulan
hanya diberikan ASI saja
AE2 = Apabila sampai berumur 2 bulan
hanya diberikan ASI saja
AE3 = Apabila sampai berumur 3 bulan
hanya diberikan ASI saja
AE4 = Apabila sampai berumur 4 bulan
hanya diberikan ASI saja

2. Sasaran pemantauan
Sasaran pemantauan ASI Eksklusif adalah ibu-ibu yang melahirkan bayi pada periode Januari - Desember setiap tahun (kohort tahunan)

3. Instrumen pemantauan
Register kohort balita dan anak pra sekolah (0-72 bulan)

4. Pelaksana pemantauan
Petugas\Puskesmas

5. Waktu pemantauan
Pemantaun dilaksanakan setiap bulan sesuai kegiatan Posyandu.

6. Cara pemantauan
1) kutip kolom 11-22 (sesuai bulan pelaksanaan posyandu) register kohort balita dan anak pra sekolah (0-72 bulan)
2) rekapitulasi AE4
3) mengolah data dan menghitung proporsi AE4
4) menyajikan data dalam bentuk diagram ataupun peta

7. Pengolahan data
Rumus:


Jumlah bayi yang diberikan ASI saja sampai umur\4 bulan (AE4)
% AE4 ----------------------------------------------------------------------------------------------------- x 100% =
Jumlah seluruh bayi yang berumur 4 bulan

contoh sbb:
1) jumlah data AE4 (yaitu bayi yang hanya diberikan ASI saja sampai umur 4 bulan) misalnya 30 orang
2) jumlah bayi yang berumur 4 bulan, misalnya 80 orang
3) hitung persentase menyusui eksklusif sampai bayi 4 bulan sbb:

30
Persentase AE4 = ------------------ x 100% = 50%
60
Catatan:
Cara menghitung persentase AE1, AE2 dan AE3 sama seperti di atas. Setelah selesai proses penghitungan, maka klasifikasikan hasil monitoring adalah sebagai berikut:
• warna hijau (baik), bila persentase AE4  80%
• warna kuning (sedang) bila persentase AE4 antara 50% - < 80%
• warna merah (kurang) bila persentase AE4 < 50%

8. Penyajian data
Penyajian data dilakukan dalam bentuk:

a) Diagram balok
Hasil pengolahan data disajikan berupa diagram balok dengan menggunakan warna seperti tersebut di atas. Penyajian data diharapkan dapat menggambarkan kecenderungan situasi pemberian ASI Eksklusif dari waktu ke waktu.

contoh:
Kecenderungan pemberian ASI Eksklusif di Posyandu “Galuh”



b) Peta
Penyajian data untuk menggambarkan situasi pemberian ASI Eksklusif dapat juga dilakukan dalam bentuk peta.

Contoh:
Peta pemberian ASI Eksklusif Puskesmas Kecamatan Sewon, DIY Bulan Agustus, 1997





Bahan rujukan informasi penting yang berkaitan dengan perilaku ASI Eksklusif

1. Apa yang dimaksud dengan ASI Eksklusif ?
Yang dimaksud dengan ASI Eksklusif yaitu perilaku dimana hanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 4 (empat) bulan.

2. Apa yang dimaksud dengan kolostrum ?
Kolostrum (susu pertama) adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama setelah bayi lahir (4-7 hari), berwarna kekuning-kuningan dan lebih kental karena mengandung banyak vitamin A, protein dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi.

3. Apa manfaat kolostrum bermanfaat bagi kesehatan bayi ?
Kolostrum sangan bermanfaat bagi kesehatan bayi karena dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare, dan membantu pengeluaran mekonium, yaitu kotoran bayi pertama yang berwarna hitam kehijauan.

4. Mengama menyusui selalu dianjurkan dan apa manfaat pemberian ASI ?
Karena ASI makanan yang lengkap zat gizinya bagi bayi.
Manfaat ASI:
• ASI adalah makanan terbaik untuk bayi dan mudah dicerna oleh sistem pencernaan bayi
• ASI mengandung zat gizi berkualitas tinggi, berguna untuk kecerdasan dan pertumbuhan.
• ASI mengandung asam amino essensial yang sangat penting untuk meningkatkan jumlah sel otak bayi (berkaitan dengan kecerdasan bayi), terutama sampai usia bayi 6 bulan. Bila pada periode tersebut terjadi kekurangan gizi, akan terjadi penurunan jumlah sel otak sebanyak 15-20%.
• ASI mengandung zat kekebalan, melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi
• ASI selalu aman dan bersih
• ASI tidak pernah basi
• ASI mempunyai suhu yang tepat, sehingga dapat langsung diberikan kepada bayi setiap saat
• ASI mengandung zat antibodi sehingga menghindarkan bayi dari alergi dan diare

Manfaat menyusui:
• Lebih mudah pemberiannya (ekonomis dan praktis)
• Menyusui mempererat hubungan kasih sayang antara ibu dan anak
• Menyusui dapat menjarangkan kelahiran (cara alamiah penunjang KB) jika bayi disusui hanya ASI saja selama 4 bulan pertama, tanpa diselingi makanan lainnya
• Menghindarkan ibu dari kemungkinan timbulnya kanker payudara
• Uterus cepat pulih
• Ibu lebih sehat dan bayi tidak kegemukan
• Mencegah timbulnya Diabetes Millitus pada masa bayi/anak-anak
• Interaksi antara ibu dan bayi yang penting untuk perkembangan kejiwaan/mental anak


5. Apakah yang dimaksud dengan makanan pralakteal ?
Makanan pralakteal adalah makanan dan minuman yang diberikan kepada bayi sebelum ASI keluar. Jenis-jenis makanan minuman tersebut a.l: air kelapa, air tajin, madu, pisang, nasi yang dikunyah oleh ibunya, pepaya, dll.

6. Mengapa pemberian makanan dan minuman pralakteal berbahaya bagi bayi ?
Pemberian makanan dan minuman pralateal berbahaya bagi bayi karena:
• Saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencernakan makanan atau minuman selain ASI
• Makanan atau minuman lain sering mengandung kuman yang bisa membuat bayi sakit

Jadi tidak boleh memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi selain ASI sampai dengan usia 4 bulan, agar pertumbuhan dan kesehatan bayi tetap terjaga baik.

7. Mengapa hanya ASI saja yang diberikan kepada bayi sejak lahir hingga umur 4 bulan:
• ASI saja cukup. Pada periode usia bayi 0-4 bulan, kebutuhan gizi bayi baik kualitas maupun kuantitas terpenuhi dari ASI saja, tanpa harus diberikan makanan ataupun minuman lainnya
• Pemberian makanan lain akan mengganggu produksi ASI dan mengurangi kemampuan bayi untuk menghisap. Daya cerna bayi hanya cocok untuk ASI
• Zat kekebalan dalam ASI maksimal dan dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi
• Asam lemak esensial dalam ASI bermanfaat untuk pertumbuhan otak, sehingga merupakan dasar perkembangan kecerdasan bayi dikemudian hari

8. Kapan ibu mulai menyusui bayinya ?
• Ibu harus menyusui bayinya sesegera mungkin yaitu pada periode 30 menit setelah bayi lahir, karena daya hisap bayi pada saat itu paling kuat
• Sentuhlah mulut dengan puting, sehingga bayi terangsang untuk menghisap, meskipun ASI belum keluar. Melalui perlekatan antara ibu dan bayi, perlakuan tersebut akan mempercepat proses pengeluaran ASI
• Hisapan bayi akan merangsang keluarnya ASI.

9. Berapa lama ibu harus menyusui bayinya ?
• Susuilah bayi sesering mungkin sesuai dengan kebutuhan bayi
• Menyusui dilakukan secara bergantian antara kedua payudara sampai kosong hingga bayi tenang dan puas, biasanya + 10 menit.

10. Bagaimana cara menghentikan bayi menyusui ?
Menghentikan bayi menyusui dapat dilakukan dengan cara:
Bila bayi selesai disusui tapi mulutnya masih melekat pada puting susu ibu, dapat dilakukan dengan menekan sudut mulut bayi dengan salah satu jari dan bayi akan melepas puting dengan perlahan.

11. Bagaimana cara menyendawakan bayi setalah disusui ?
Menyendawakan bayi dapat dilakukan dengan cara: Meletakkan bayi pada bahu ibu atau telungkup sampai bersendawa.

12. Bagaimana cara meningkatkan produksi ASI ?
Cara meningkatkan produksi ASI dapat dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut:
• Melakukan persiapan menyusui saat ibu sedang hamil
• Susuilah bayi segera setalah bayi lahir
• Susuilah bayi sesering mungkin. Semakin sering bayi menghisap puting susu, semakin banyak ASI yang keluar
• Susuilah bayi dari kedua payudara yang kiri dan kanan secara bergantian pada setiap kali menyusui
• Jangan memberikan makanan dan minuman lain selain ASI sampai dengan usia bayi 4 bulan.

13. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan menyusui ?
Keberhasilan menyusui sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sbb:
• Ibu harus yakin bahwa mampu menyusui
• Ibu cukup minum (8-12 gelas/hari) dan makan lebih banyak makanan bergizi. Usahakan makan 2 kali lebih banyak dari pada biasanya dan makan makanan yang segar dan bervariasi setiap hari
• Ibu dalam keadaan pikiran yang tenang, tentram dan santai
• Perhatikan cara meletakkan bayi dan melekatkan puting pada mulut bayi dengan benar
• Makin sering payudara dihisap bayi, makin banyak produksi ASI
• Pengertian dan dukungan keluarga, terutama dari suami sangat penting

14. Apa yang dimaksud dengan laktasi ?
Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui, mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi mengisap dan menelan ASI

15. Bagaimana cara menyusui yang baik dan benar ?
Cara menyusui yang baik dan benar dapat dilakukan sbb:
• Sebelum menyusui, sebaiknya ibu mencuci tangan terlebih dahulu
• Bersihkan puting susu dengan air hangat, kemudian dilap dengan kain yang bersih
• Letakkan kepala bayi pada lengkung siku dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan (lihat gambar pada lampiran)
• Perut bayi menempel pada badan ibu, telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
• Waktu mulai menyusui, peganglah bagian bawah payudara dengan keempat jari, dan ibu jari diletakkan di bagian atas payudara
• Setuhkan puting pada bibir atau pipi bayi untuk merangsang agar mulut bayi terbuka lebar
• Masukkan seluruh puting dan sebahagian lingkaran di sekitar puting (areola) ke mulut bayi
• Ibu dan bayi harus berada dalam keadaan santai, tenang dan nyaman

16. Bagaimana cara menyimpan ASI ?
ASI dapat disimpan dalam wadah yang bersih (steril), tertutup dan dapat tahan sampai: 6 jam pada suhu kamar. Sebelum diberikan kepada bayi dengan sendok atau gelas, ASI dapat dihangatkan dengan merendam wadah ASI dalam mangkok atau panci berisi air hangat/panas.

17. Bagaimana cara mengatasi puting datar dan terbenam ?
Puting datar dan terbenam dapat diatasi dengan cara:
Setiap selesai mandi pada periode kehamilan di atas 7 bulan, puting susu ditarik-tarik sampai menonjol atau dengan bantuan pompa susu. Setelah lahir, penarikan puting susu jangan dilakukan berlebihan.

18. Bagaimana cara mengatasi puting lecet dan nyeri ?
Untuk mengatasi puting lecet dan nyeri dapat dilakukan hal-hal sbb:
• Mulai menyusui pada puting yang tidak lsakit
• Susi sebelum bayi sangat lapar
• Jangan membersihkan puting susu dengan sabun atau alkohol
• Perbaiki posisi bayi pada saat menyusui
• Perhatikan cara melepas mulut bayi dari puting
• Keluarkan sedikit ASI untuk dioleskan pada puting selesai menyusui
• Biarkan puting kering sebelum memakai BH
• Bila lecet tidak sembuh dalam 1 minggu, rujuk ke Puskesmas
• Usahakan bayi menghisap sampai aerola

19. Bagaimana cara mengatasi payudara bengkak dan puting nyeri ?
Untuk mengatasi payudara bengkak dan puting nyeri dapat dilakukan hal-hal sbb:
• Susuilah bayi setiap kali meminta
• Keluarkan ASI dengan pompa atau tangan
• Untuk mengurangi rasa sakit, kompres dengan air hangat
• Perbaiki cara meletakkan bayi (tubuh bayi menghadap perut ibu) dan cara meletakkan bayi (letak mulut pada areola).

20. Bagaimana cara menyapih yang baik ?
• Kurangi frekuensi menyusui secara bertahap
• Tambah frekuensi makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dan makanan selingan
• Jadwal menyusui terakhir, pada malam hari dihentikan
• Tetap berikan perhatian dan kasih sayang
• Menyapih sebaiknya di mulai pada masa anak berusia diatas 2 tahun.



PENGERTIAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

PENGERTIAN
Pemberian ASI Eksklusif
Bayi hanya diberikan ASI saja, langsung atau tidak langsung (diperas). Secara keseluruhan, pemberian ASI Eksklusif mencakup hal-hal sbb:
1. Hanya ASI sampai umur 4 bulan
2. Menyusui dimulai 30 menit setelah bayi lahir
3. Tidak memberikan makanan pralakteal seperti air gula atau air tajin kepada bayi baru lahir
4. Menyusui sesuai kebutuhan bayi (on demand)
5. Berikan kolostrum (ASI yang keluar pada hari-hari pertama, yang bernilai gizi tinggi) kepada bayi
6. Menyusui sesering mungkin, termasuk pemberian ASI pada malam hari
7. Cairan lain yang dibolehkan hanya vitamin/mineral dan obat dalam bentuk drops atau sirup (WHO/Unicef, 1989).

Pemberian MP-ASI (Makanan Pendamping ASI)
Disamping ASI, bayi diberikan makanan lain berupa makanan padat atau setengah cair, termasuk susu. Definisi MP-ASI adalah makanan yang diberikan disamping ASI kepada bayi mulai usia 4 bulan untuk mencapai kecukupan gizinya.

Cara mengatasi permasalahan menyusui

a. Puting susu datar dan terpendam
Cara mangatasinya: Puting susu ditarik-tarik sampai menonjol, kalau perlu dengan bantuan pompa susu.

b. Puting lecet adan nyeri
Hal ini disebabkan oleh karena posisi menyusui atau cara menghisap yang salah, puting susu belum meregang (belum siap untuk disusui), dan hisapan bayi sangat kuat.
Cara mengatasinya:
• Mulai menyusui pada puting yang tidak sakit
• Susui sebelum bayi sangat lapar agar menghisapnya tidak terlalu kuat
• Perbaiki cara menghisap, bibir bayi menutupi areola diantara gusi atas dan bawah
• Jangan membersihkan puting dengan sabun atau alkohol
• Perhatikan cara melepaskan mulut bayi dari puting setelah selesai menyusui. Letakkan jari kelingking di sudut bawah
• Keluarkan sedikit ASI untuk dioles pada puting selesai menyusui
• Biarkan puting kering sebelum memakai BH
• Kalau lecet tidak sembuh dalam 1 minggu, rujuk ke Puskesmas
• Usahakan bayi menghisap sampai kebagian hitam disekitar puting (aerola).


c. Payudara bengkak
Sekitar hari ke 3-4 payudara sering terasa lebih penuh atau tegang disertai rasa nyeri.

Cara mengatasinya:
• Susuilah bayi sesuai kebutuhan
• Susuilah bayi tanpa dijadwal sesuai kebutuhan
• Keluarkan ASI dengan pompa atau manual dengan tangan bila produksi ASI melebihi kebutuhan bayi
• Untuk mengurangi rasa sakit, kompres dengan air hangat
• Lakukan pengurutan mulai dari puting kearah pangkal.

d. Saluran ASI tersumbat
Cara mengatasinya:
• Kelurakan ASI dengan tangan/pompa
• Kompres air hangat sebelum menyusui, kompres air dingin setelah menyusui

e. Radang payudara
Terjadi pada 1-3 minggu setelah melahirkan. Tanda-tandanya adalah:
• Kulit payudara tampak lebih merah
• Payudara mengeras
• Nyeri dan berbenjol-benjol

Cara mengatasinya:
• Tetap menyusui bayi
• Bila disrtai demam dan nyeri dapat diberi obat penurun demam dan menghilangkan rasa nyeri
• Bila belum berhasil segera rujuk ke Puskesmas
• Lakukan perawatan payudara secara baik dan teratur.

f. Payudara abses
Abses pada payudara disebabkan karena radang payudara. Untuk sementara payudara yang abses tidak dipakai untuk menyusui. Rujuk ke Puskesmas. Setalah sembuh bayi dapat menyusui kembali.

g. Produksi ASI kurang
• Ibu perlu menjaga ketenangan pikiran
• Cukup istirahat dan mempertinggi rasa percaya diri akan kemampuan menyusui bayinya
• Makanan ibu cukup bergizi
• Tingkatkan frekuensi menghisap/menyusui

h. Bingung puting
Bila ibu bekerja atau karena sesuatu hal bayi terpaksa diberikan susu buatan, berikan dengan sendok, jangan dengan dot susu botol karena menyusui dari dot berlainan dengan puting ibu. Ini untuk menghindari agar bayi tidak bingung puting.

Mempertahankan dan mempertinggi produksi ASI.
Merawat payudara dan senam payudara. Memperhatikan makanan ibu menyusui. Ibu menyusui makan lebih banyak dari biasanya dan minum 6-8 gelas sehari. Banyak istirahat. Menjaga ketenangan pikiran dan mempertinggi rasa percaya diri akan kemampuan menyusui bayinya. Teruskan menyusui. Hisapan bayi akan merangsang produksi ASI.

Relaktasi
Apabila menyusui terhenti untuk sementara karena sesuatu sebab dan ibu ingin menyusui lagi, maka caranya adalah dengan memberikan kesempatan pada bayi menghisap payudara 8-10 kali sehari, tiap kali selama 15 menit. Apabila puting menjadi nyeri atau lecet, teruskan pemberian ASI tetapi waktunya lebih pendek, yaitu 2-3 menit tiap kali. Kalau ASI belum keluar, beri susu formula pengganti ASI sebagai tambahan. Rata-rata ASI diproduksi lagi setelah 1-2 minggu.

KONSELING GIZI JAMAAH HAJI

PEDOMAN KONSELING GIZI
JAMAAH CALON HAJI INDONESIA
UNTUK
PETUGAS KESEHATAN























DEPARTEMEN KESEHATAN & KESEJAHTERAAN SOSIAL RI
DIREKTORAT JENDERAL BINA KESEHATAN MASYARAKAT
DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT
JAKARTA
2001
KATA PENGATAR


Pelaksanaan ibadah haji memerlukan kondisi tubuh yang sehat dan status gizi yang baik agar mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan di tanah suci antara lain suhu yang lebih tinggi dan kelembaban yang Iebih rendah dibandingkan dengan cuaca di Indonesia. OIeh karena itu penyuluhan gizi bagi jamaah calon haji merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan.

Penyuluhan gizi harus dimulai sejak jamaah calon haji memeriksakan kesehatan pada penapisan pertama di Puskesmas, selama menunggu pemberangkatan dan selama berada di Arab Saudi. Penyuluhan gizi bagi jamaah calon haji dititik beratkan pada pemenuhan gizi seimbang dan pengaturan diet yang harus dilakukan agar diperoleh kondisi tubuh yang baik dan memungkinkan untuk melaksanakan seluruh kegiatan ibadah haji.

Buku “Pedoman Konseling Gizi Jamaah Calon Haji Indonesia untuk Petugas Kesehatan” ini merupakan penyempurnaan dan Buku Penyuluhan Gizi Calon Jamaah Haji Indonesia untuk Petugas Puskesmas yang diterbitkan pada bulan November 1997.

Buku ini memuat materi penyuluhan gizi yang perlu disampaikan kepada jamaah calon haji termasuk tata cara melakukan konseling yang disusun berdasarkan buku yang disempurnakan ditambah dengan pengalaman nutrisionis sebagai Tim Kesehatan Haji Indonesia tahun 2001.

Kami menyadari dalam buku pedoman ini masih ditemukan kekurangan, oleh karena itu saran dan usul penyempurnaan dan berbagai pihak sangat diharapkan.



Jakarta, Mei 2001
Direktur Gizi Masyarakat



Dr. Dini Latief, M.Sc





DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ..………………………………………………………………. i
DAFTAR ISI……………..……………………………………………………………….. iii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………….. 1
BAB II KONSELING GIZI BAGI JAMAAH CALON HAJI ……………… 3
BAB III MAKANAN JAMAAH CALON HAJI SEBELUM
BERANGKAT KE ARAB SAUDI …………………………………….. 5
BAB IV CARA MEMILIH MAKANAN DI ARAB SAUDI ………………….. 8
BAB V PENGATURAN MAKANAN UNTUK JAMAAH
HAJI YANG MENDERITA PENYAKIT RISIKO
TINGGI…………………………………………………………………………. 11

Lampiran

1. Daftar Padanan Bahan Makanan …..…………………. 17
2. Keadaan Cuaca di Arab Saudi Selama Setahun ………...….. 30
3. Contoh Menu Sehari Bagi Jamaah …………………………………… 31

BAB I
PENDAHULUAN


lbadah haji merupakan ibadah dalam rangka memenuhi rukun Islam ke lima yang pada hakekatnya adalah ibadah fisik spiritual yang terencana dan terprogram. Oleh karena itu dalam melaksanakan ibadah haji diperlukan kesiapan fisik, mental, sosial sejak di tanah air, di perjalanan, saat melaksanakan kegiatan ibadah hingga kembali ke tanah air.

lbadah fisik selama perjalanan spiritual mi merupakan faktor yang memperberat beban jasmani sehingga dapat menimbulkan stress dan keadaan mi semakin berat bagi mereka yang kondisi fisiknya sudah menurun atau sakit. Dengan status gizi yang baik diharapkan dapat meningkatkan kemampuan adaptasi jamaah calon haji dalam menghadapi stress selama menunaikan ibadah haji.

Dalam syariat Islam makan merupakan ibadah, oleh karena itu sudah seharusnya jamaah calon haji menerapkan cara makan yang balk dan benar. Berkaitan dengan hal tersebut dalam surat Al-Baqarah ayat 168 disebutkan agar umat Islam memakan makanan yang halal dan balk, dan dalam surat Al-¬Maidah ayat 88 dinyatakan makan dan minumlah rezeki yang diberikan Allah, bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah S.A.W tidak pernah mencela makanan.

Dengan petunjuk di atas maka jamaah calon haji dianjurkan untuk mengkonsumsi yang mencukupi kebutuhan dan aman bagi kesehatan serta sesuai dengan kondisi tubuhnya. Disamping itu diajarkan pula agar manusia mencoba semua makanan yang dihidangkan dan mensyukurinya sebagai karunia Allah.

Jamaah calon haji harus menyadari pentingnya mepersiapkan status gizi yang balk, sejak jamaah calon haji berniat untuk menunaikan ibadah haji. Dengan niat dan tekad yang mantap jamaah haji Insya Allah akan mampu menerima perubahan lingkungan yang akan dihadapinya.

Agar mampu menjalankan setiap kegiatan ibadah haji tanpa kelelahan yang berarti, jamaah calon haji perlu makan dalam jumlah yang cukup dan mutu yang baik sesuai dengan kaidah gizi seimbang. Untuk maksud tersebut jamaah calon haji perlu dibekali pengetahuan tentang gizi antara lain melalui kegiatan penyuluhan gizi yang dilakukan oleh petugas puskesmas.

Penyuluhan gizi ditekankan pada kebiasaan makan yang harus diterapkan sesuai dengan kondisi tubuh dan mengacu pada gizi seimbang, sejak sebelum menunaikan ibadah haji dan selama berada di tanah suci, hingga kembali ke tanah air dalam keadaan sehat wal afiat

Disamping itu penyuluhan gizi juga ditujukan untuk menerapkan diet bagi jamaah calon haji yang menderita penyakit yang memerlukan penanganan diet. Berdasarkan pengalaman nutrisionis (Ahli Gizi) sebagai tenaga kesehatan haji tahun 2001 diketahui bahwa penyakit yang sering kali dijumpai dan memerlukan pananganan diet adalah Hipertensi, Diabetes Mellitus, dan saluran pencernaan.


BAB II
KONSELING GIZI BAGI JAMAAH CALON HAJI

A. PENGERTIAN

1. Konseling Gizi adalah suatu proses komunikasi 2 (dua) arah antara konselor dan klien untuk membantu klien mengenali dan mengatasi masalah gizi.
2. Konselor adalah tenaga kesehatan yang mempunyai latar belakang pendidikan gizi atau pendidikan kesehatan lainnya yang bekerja di Puskesmas / Dinas Kesehatan / Rumah Sakit.
3. Klien adalah sasaran konseling yang dalam hal ini adalah jamaah calon haji yang datang karena membutuhkan informasi tentang masalah kesehatan dan gizi agar mampu melaksanakan ibadah haji dengan balk.

B. HAL-HAL YANG PERLU DIMILIKI OLEH KONSELOR

1. Mempunyai pengetahuan tentang:
- Ilmu gizi dasar dan dietetik.
- Masalah gizi di Indonesia.
2. Memiliki sikap yang sopan, sabar dan sederhana.
3. Mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti klien.
4. Menunjukkan sikap ingin membantu klien.
5. Menciptakan suasana Iingkungan konseling yang nyaman.
6. Mampu menjadi pendengar yang balk dalam menerima keterangan dan klien

C. TEMPAT KONSELING

1. Ruang terpisah dengan ruangan lain agar klien merasa nyaman.
2. Besar ruangan tergantung jumlah klien yang dilayani.
3. Dalam ruangan tersedia fasilitas peralatan yang cukup memadai antara lain alat timbang berat badan dan pengukur tinggi badan, poster, leaflet, food model dIl.

D. LANGKAH - LANGKAH KONSELING GIZI

1. Pengumpulan data (data berat badan, tinggi badan, anamnesa gizi, data klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium serta data lain yang menunjang).
2. Identifikasi data dan Pengkajian.
Data yang terkumpul dikaji, diidentifikasi secara terperinci.
3. Mengambil kesimpulan atas masalah gizi yang dihadapi klien berdasarkan pengkajian data.
4. Perencanaan konseling yang perlu diberikan.
5. Memonitor dan Evaluasi hasil konseling.

E. KONSELING GIZI DIANGGAP BERHASIL APABILA:

Klien mengerti, memahami serta mau menjalankan anjuran yang disampaikan oleh konselor.

F. HAMBATAN YANG SERING DIJUMPAI OLEH KONSELOR

1. Klien tidak mau bicara secara terbuka.
2. Klien tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mendengarkan anjuran konselor.
3. Klien berbicara terus yang sering tidak sesuai topik pembicaraan.
4. Ruang dan suasana konsultasi tidak mendukung jalannya proses konsultasi.




BAB III
MAKANAN JAMAAH CALON HAJI
SEBELUM BERANGKAT KE ARAB SAUDI

Makanan bergizi dapat membantu para jamaah calon haji dalam mempertahankan kondisi tubuh agar tetap sehat dan prima. Gizi adalah segala sesuatu tentang makanan dan kaitannya dengan kesehatan. Makanan sehat dan bergizi yang seimbang adalah makanan yang cukup zat gizinya sesuai keperluan tubuh.

Setiap zat gizi mempunyai fungsi yang khusus dalam tubuh. OIeh karena itu sebaiknya semua zat gizi harus terdapat dalam makanan sehari-hari. Setiap orang memerlukan jumlah makanan yang berbeda sesuai dengan jenis kegiatan yang dilakukan (kegiatan ringan, sedang dan berat), jenis kelamin, kondisi tubuh, berat badan, tinggi badan, lingkungan udara.

Pedoman makanan jamaah calon haji sebelum berangkat ke tanah suci sebagai berikut:

1. Makanlah makanan yang beraneka-ragam dan terdiri dan berbagai bahan makanan seperti makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan,

2. Pilihlah bahan makanan pokok yang tinggi serat seperti beras, jagung, kentang, ubi, talas, singkong, roti, mie dan sebagainya,

3. Makanlah lauk pauk yang bernilai gizi tinggi seperti daging, telur, ikan, ayam, kacang-kacangan dan hasil olahannya seperti tahu, tempe dan sebagainya,

4. Makanlah sayuran berwarna seperti bayam, kangkung, wortel, labu kuning, sawi, daun singkong, dan sebagainya,

5. Makanlah buah-buahan berwarna kuning atau kemerahan yang banyak mengandung vitamin seperti pisang, pepaya, jeruk, nanas, peer, anggur, apel, semangka dan melon.

6. Minum minimal 10 gelas
Dari pedoman di atas dapat dijabarkan kebutuhan bahan makanan seorang sehari berdasarkan kecukupan gizinya seperti pada tabel 1.
Tabel 1. Kebutuhan Bahan Makanan Sehari
Untuk Berbagai Golongan Umur



GOLONGAN
BERAT
BADAN
(Kg) NASI 200 G
(1 piring)
atau
padanannya LAUK-LAUK
Ikan 50 g Tempe 25 g
(1 ptg) (1 ptg)
atau padanannya S A Y U R
100 g
(1 mangkok) B U A H
100 g
Pepaya
(1ptg) atau padanannya
LAKI-LAKI
DEWASA
20-39 Tahun
56
4,5 piring
1,5 piring
3 ptg
1,5 mangkok
2 ptg
40-59 Tahun 56 4 piring 1,5 piring 4 ptg 1,5 mangkok 2 ptg
60 Tahun keatas 56 4 piring 1,5 piring 4 ptg 1,5 mangkok 2 ptg
WANITA
DEWASA
20-39 Tahun
50
3,5 piring
1,5 piring
3 ptg
1,5 mangkok
2 ptg
40-59 Tahun 50 3 piring 1,5 piring 3 ptg 1,5 mangkok 2 ptg
60 Tahun keatas 50 2 piring 2,0 piring 4 ptg 1,5 mangkok 2 ptg







Kebutuhan Bahan Makanan ini berlaku untuk orang sehat dengan aktivitas sedang. Untuk melengkapi jenis makanan sumber zat pembangun, minumlah susu segar 1-2 gelas sehari.

Dalam tabel tersebut 200 g nasi berasal dan 100 g beras. Lauk¬pauk, sayur dan buah diukur dalam keadaan mentah.

Kebutuhan bahan makanan tersebut di atas untuk sehari yang dalam menerapkanya dapat dibagi untuk makan pagi, siang dan sore. Untuk variasi dalam hidangan sehari-hari dapat digunakan daftar padanan bahan makanan (lampiran 1).


Berdasarkan padanan berisi bahan makanan yang dalam kelompoknya dapat saling menggantikan satu sama lain, karena mempunyai nilai gizi yang kurang lebih sama.

Sebagai contoh penggantian bahan makanan dari kelompok yang sama adalah sebagai berikut:
• Kelompok makanan pokok : 100 g nasi dapat ditukar dengan 70 g roti putih atau 200 g kentang.
• Kelompok lauk hewani : 50 g ikan dapat ditukar dengan 50 g daging.
• Kelompok lauk nabati : 50 g tempe dapat ditukar dengan 100 g tahu.
• Kelompok sayuran A : selada dapat ditukar dengan jamur segar atau ketimun.
• Kelompok sayuran B : bayam, dapat ditukar dengan bucis atau sawi.
• Kelompok sayuran C : daging, dapat ditukar dengan nangka muda atau daun katuk.
• Kelompok buah-buahan : 200 g pepaya dapat ditukar dengan 100 g mangga atau 50 g pisang atau 100 g apel.

BAB IV
CARA MEMILIH MAKANAN DI ARAB SAUDI


Berdasarkan pengamatan TKHI Tahun 2000-2001, jamaah haji yang menggunakan ONH Plus maupun ONH biasa selama di Makkah dan Madinah dapat membeli makanan berupa makanan sudah jadi atau makanan siap santap.

Selama berada di tanah suci kemungkinan besar jamaah haji akan mengalami perbedaan kebiasaan makan. Keadaan ini harus disadari sejak jamaah haji berniat untuk menunaikan ibadah haji. Dengan niat dan tekad yang mantap, maka jamaah siap untuk menerima perubahan yang akan dihadapinya termasuk mengenal berbagai jenis hidangan atau bahan makanan baru yang terdapat di Arab Saudi.

Kegiatan jamaah haji di Arab Saudi termasuk kegiatan fisik yang berat. Lingkungan penuh sesak manusia, terik matahari dan kelembaban rendah merupakan pengalaman fisik yang pertama kali dialami. Sebaliknya dimusim dingin suhu udara dapat mencapai 2°C dengan kelembaban sangat rendah, sehingga rasa dingin menusuk tulang dan menyebabkan kulit kering serta pecah-pecah. Sirkulasi musim pada setiap tahunnya dapat dilihat pada lampiran 2, untuk mengatasi hal tersebut makanan bergizi dalam jumlah yang cukup harus dikonsumsi agar para jamaah haji mampu memenuhi kebutuhan tenaga yang dikeluarkan. Memperhatikan tabel 1, setiap jamaah haji pada musim dingin di Arab Saudi harus menambah setiap kali makan:





Pada umumnya macam makanan di Arab Saudi cukup beraneka ragam, juga banyak dijual susu segar ataupun yang diolah seperti Zubda, Laban.

Jenis makanan bergizi tersebut dapat dipilih dan disiapkan sebagai hidangan selama di Arab Saudi dengan contoh sebagai berikut:


a. Makanan pokok, salah satu atau campuran dari:
• Nasi • Nasi Turki • Nasi Buhari
• Nasi Birjani • Kentang goring • Nasi kari
• Chapatis • Mie • Roti

b. Lauk-lauk dapat berupa:
• Ayam goreng • Ayam semur
• Ayam nugget • Ayam Kentucky/Albai
• Empal daging • Ayam panggang/ayam brost
• Sate ayam • Donner kebab
• Kari dan Gulai kambing • Ikan goring, cumi goreng
• Shih kebab • Tempe/tahu goreng

c. Sayuran dapat berupa:
• Pecel • Urapan • Sayur bayam
• Gado-gado • Sayur oyong • Oseng2 buncis
• Sayur asem • sayur sop

d. Buah-buahan yang dapat disediakan:
• Jeruk/sunkist • Pisang • Peer
• Apel • Anggur • Cherry
• Semangka • Kurma segar • Blewah

e. Minuman.
Pada umumnya cuaca di Arab Saudi bersuhu tinggi (panas) dengan kelembabab sangat rendah, oleh karena itu selama berada di Arab Saudi diasakan minum air 1 gelas setiap jam walaupun tidak merasa haus.

Air yang dapat diminum berupa: air matang, air zam-zam, minuman dalam kemasan dan bermacam-macam sari buah. Apabila jamaah haji mengalami batuk pilek sebaiknya minum air hangat dan hindari minum air dingin.
Untuk minuman di musim dingin jamaah haji dapat memilih minuman seperti:
• Susu panas
• The susu panas
• Kopi susu panas
• Minuman jahe (dibawa dari Indonesia)
Untuk memudahkan jamaah haji menyusun menu makan dapat dilihat contoh menu sehari seperti pada lampiran 3.
BAB V
PENGATURAN MAKANAN UNTUK JAMAAH
HAJI YANG MENDERITA PENYAKIT
RISIKO TINGGI (RISTI)

Jamaah haji yang ber-Risiko Tinggi (Risti) menderita penyakit yang dapat mengganggu ibadah haji. Berdasarkan pengamatan TKHI tahun 2000-2001 penyakit yang terbanyak diderita para Jamaah haji ialah penyakit Lambung dan penyakit degeneratif, antara lain: Hipertensi, Jantung Koroner dan Diabetes Mellitus.

A. UNTUK JAMAAH DENGAN HIPERTENSI

Tekanan darah umumnya meningkat seiring dengan meningkatnya usia dan berkaitan erat dengan terjadinya penyakit Jantung, Stroke, dan penyakit Ginjal.
Secara umum nilai normal tekanan darah bagi orang dewasa adalah 120/80 mm Hg. Apabila seseorang tekanan darahnya telah melebihi 140/90 mm Hg, maka orang tersebut telah menderita hipertensi.

Tujuan pengaturan makanan pada Hipertensi adalah:
- Menurunkan atau mempertahankan tekanan darah sehingga mencapai batas normal.
- Mencegah / menghilangkan penimbunan garam.

Cara Pengaturan Makanan:
1. Batasi Bahan Makanan sumber Natrium (garam)
Garam Natrium secara alami terdapat dalam bahan makanan hewani dan nabati. Selain itu juga merupakan bahan yang ditambahkan pada masakan/makanan, seperti:
• Tepung Susu Penuh ( Full cream)
• Margarine
• Soda kue (Natrium bikarbonat)
• Pengawet daging (Sendawa),
• Pengawet buah (Sodium benzoat)
• Bumbu mie instan, petis, tauco, vetsin dan kecap

2. Batasi makanan yang asin atau diawetkan dengan garam:

Semua makanan yang telah diolah, seperti:
• Biskuit, krekers, bolu, kue lain yang dimasak dengan garam dapur dan margarine.
• Dendeng, abon, corned beef, ikan asin, ikan pindang, sarden, udang kering, telur asin.
• Keju, selai kacang tanah (pindakas).
• Sayuran dalam kaleng.

3. Bahan makanan yang diperbolehkan:

• Bahan makanan segar, seperti beras, ubi, mie, maizena, hunkwee, terigu, gula pasir.
• Kacang-kacangan dan hasil olahnya, seperti kacang hijau, kacang merah, kacang tanah, kacang tolo, tempe, tahu tawar, oncom.
• Minyak goreng, margarine tanpa garam.
• Sayuran dan buah-buahan segar.
• Bumbu seperti : bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, kunyit, kencur, laos, salam, sereh, dan lain-lain.

4. Meningkatkan asupan kalium, kalsium dan magnesium dengan cukup makan sayuran dan buah-buahan.

Cara memasak yang dianjurkan:

• Dalam menumis atau memasak sebaiknya menggunakan mentega atau margarine yang tidak mengandung (garam).
• Untuk memperbaiki rasa masakan yang tawar, dapat digunakan bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, gula, cuka, kunyit, daun salam, dan asam.
• Dengan menggoreng, menumis, pepes, kukus atau memanggang juga dapat meninggikan/menambah rasa masakan sehingga tidak merasa tawar.

B. UNTUK JAMAAH DENGAN PENYAKIT DIABETES MELITUS

Diabetes Mellitus merupakan kelainan metabolik yang ditandai oleh adanya kenaikan kadar gula dalam darah akibat berkurangnya atau tidak adanya insulin.
Dengan pengaruh insulin, yaitu suatu zat/hormon penting yang dibentuk oleh kelenjar pankreas, gula diubah menjadi energi dan merupakan sumber kekuatan otot. Jika insulin yang dibentuk di pankreas terlalu sedikit, maka seseorang akan menderita diabetes. Gula yang ada dalam darah tidak termanfaatkan secara memadai, karena itu kadar gula dalam darah meningkat dan kelebihannya terbuang melalui air seni.
Metabolisme lemakpun akan terganggu.

Faktor keturunan, kegemukan/obesitas, pola makan yang salah, proses menua, setress dan lain-lain merupakan faktor risiko atau faktor pencetus terjadinya penyakit ini.

Gejala Klinis Diabetes Melitus adalah:

• Sering kencing terutama pada malam hari
• Berat badan yang turun dengan cepat walaupun makan-makanan dalam jumlah yang cukup atau berlebihan.
• Di samping itu kadang-kadang ada keluhan : lemah, kesemutan pada jan tangan dan kaki, cepat lapar, gatal¬gatal, penglihatan kabur, dan luka sukar sembuh.

Tujuan diet pengaturan makan pada penyakit Diabetes Mellitus:
Mempertahankan kadar gula darah sampai batas normal.

Pengaturan makanan adalah salah satu komponen utama dalam pengobatan penyakit Diabetes Mellitus, dengan penurunan berat badan sangat membantu kerja insulin.

Cara Pengaturan Makanan:

1. Jumlah kalori ditentukan menurut umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan dan aktivitas,

2. Batasi penggunaan karbohidrat kompleks seperti: nasi, lontong, roti, ketan, jagung, kentang, dll dikurangi jumlahnya dan kebiasaan sehani-hari,

3. Hindari penggunaan sumber karbohidrat sederhana/mudah diserap seperti gula pasir, gula jawa, sirup, selai, manisan buah-buahan, susu kental manis, minuman botol ringan, dodol, es knim, kue-kue manis, bolu, tarcis, abon, dendeng, dan sarden,
4. Bahan makanan yang diperbolehkan:
• Lauk hewani dan nabati dalam jumlah yang cukup sesuai yang dianjurkan,
• Aneka ragam sayuran untuk memberikan rasa kenyang dan kandungan serat tinggi,
• Buah-buahan dalam jumlah cukup,
• Minyak dan garam dalam jumlah yang tidak berlebihan.
5. Jumlah makanan yang dimakan dalam satu hari dibagi dan diatur dengan baik terutama bagi penderita yang menggunakan obat dan suntikan insulin,

6. Untuk mengganti gula dapat digunakan sakarin dengan perbandingan 1 gelas minuman digunakan 2 tablet sakarin atau 1/4 sendok teh sakarin kristal. Bila menggunakan sakarin jangan dipanaskan karena dapat memberi rasa pahit.

C. UNTUK JAMAAH DENGAN PENYAKIT LAMBUNG

Tujuan diet pada penyakit Lambung:
Memberikan makanan secukupnya yang tidak merangsang dan agar dapat menetralkan kelebihan asam lambung.

Cara Pengaturan Makanan:

1. Porsi makan yang diberikan kecil tapi sering,
2. Lambung tidak boleh kosong lebih dari tiga (3) jam, sehingga pembagian jam makan harus teratur,
3. Dalam memasak sebaiknya tidak banyak memakai cabe dan bumbu yang merangsang,
4. Pilih buah-buahan yang tidak asam dan yang tidak menimbulkan gas (misalnya : nenas, kedondong, mangga muda, durian, nangka masak),
5. Susu diberikan sesuai toleransi,
6. Hindari makanan yang merangsang sekresi getah lambung (kopi, teh kental dan alkohol).

D. UNTUK JAMAAH DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER

Tujuan pengaturan makanan pada penyakit jantung koroner adalah:
1. Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan pekerjaan jantung,
2. Menurunkan berat badan bila penderita terlalu gemuk,
3. Mencegah/menghilangkan penimbunan garam/air.



Cara Pengaturan Makanan:

1. Batasi penggunaan garam bila ada tekanan darah tinggi (hipertensi),
2. Bagi yang terlalu gemuk, jumlah makanan pokok sebagai sumber hidrat arang dikurangi. Contoh sumber hidrat arang: beras, roti, mie, kentang, bihun, biskuit, tepung-tepungan, gula, dan sebagainya,
3. Bahan makanan yang berlemak sebaiknya dibatasi. Pilihlah daging tanpa lemak atau ikan segar, ayam dan lain-lain,
4. Hindari sayuran yang mengandung gas: kool, lobak, nangka muda,
5. Semua buah boleh dimakan kecuali nangka masak, durian, alpukat diberikan dalam jumlah terbatas,
6. Makanan yang sebaiknya dipilih yang mudah dicerna dan tidak merangsang,
7. Dalam memasak sebaiknya tidak menggunakan cabe dan bumbu yang merangsang,
8. Usahakan untuk mengurangi makanan gorengan dan yang dimasak dengan santan kental,
9. Dianjurkan untuk tidak minum kopi, atau alkohol.



Lampiran 1


DAFTAR
PADANAN BAHAN MAKANAN


UKURAN RUMAH TANGGA

Untuk memudahkan penggunaan padanan bahan makanan ini, maka bahan makanan pada daftar dinyatakan dalam ukuran rumah tangga (URT). Dalam menyusun hidangan sehani-hari gunakanlah makanan yang benaneka ragam, karena tidak ada satu bahan makanan yang mengandung zat gizi secara Iengkap. Penggunaan aneka ragam bahan makanan dalam hidangan akan membenikan keuntungan karena kekurangan zat gizi tertentu pada suatu jenis bahan akan dilsi oleh bahan makanan lainnya. Dengan demikian akan meningkatkan mutu gizi hidangan serta memudahkan perencanaan menu yang bervariasi.

Pada waktu merencanakan menu disamping faktor selera dan nilai gizi penlu diperhatikan ketersediaan bahan makanan setempat. Daftar padanan mi digunakan untuk membantu pemilihan bahan makanan untuk menyusun menu dengan gizi seimbang dan terjangkau dá~’a bell. Padanan mi berisi daftar bahan makanan yang dalam kelompoknya dapat saling menggantikan satu sama lain, karena mempunyai nflai gizi yang kunang lebih sama, misalnya : 100 g nasi sepadan dengan 200 g kentang, 50 g ikan segar sepadan dengan 50 g daging sapi atau 50 g telur ayam negeri (1 butir).

Untuk memudahkan penggunaan padanan ml, bahan makanan dibagi menjadi 8 golongan yaitu:


1. Golongan I (Sumber Karbohidrat)

2. Golongan II (Sumber Protein Hewani):

a. Rendah Lemak
b. Lemak Sedang
c. Tinggi Lemak

3. Golongan III (Sumber Protein Nabati)

4. Golongan IV ( Sayuran):
a. Sayuran A
b. Sayunan B
c. Sayuran C

5. Golongan V ( Buah-buahan dan Gula)

6. Golongan VI (Susu):
a. Susu Tanpa Lemak
b. Susu Rendah Lemak
c. Susu Tinggi Lemak

7. Golongan VII (Minyak / Lemak):
a. Lemak Tidak jenuh
b. LemakJenuh

8. Golongan VIII (Makanan tanpa kalori)

GOLONGAN I (Sumber Karbohidrat)

Bahan makanan ini umumnya digunakan sebagai makanan pokok.

Satu satuan penukar mengandung:
40 g Karbohidrat 4 g Protein 175 Kalori

Bahan makanan Unit URT Gram
Bengkuan 2 Bj bsr 320 S++
Bihun ½ Gls 50
Biskuit 4 Bh bsr 40 Na+
Gadung 1 Ptg 175 S++
Ganyong 1 Ptg 185 S++
Gembili 1 Ptg 185 S++
Havermout 51/2 Sdm 45 S+
Jagung segar 3 Bj sdg 125 S++
Ketang 2 Bj sdg 210 K+
Kentang Hitam 12 Bj 125 P-
Maizena 10 Sdm 50 P-
Makaroni ½ Gls 50 P-
Mi Basah 2 Gls 200 Na+, P-
Mi kering 1 Gls 50 Na+
Nasi beras giling ¾ Gls 100
Nasi beras ½ giling ¾ Gls 100
Nasi ketan hitam ¾ Gls 100
Nasi ketan putih ¾ Gls 100
Roti putih 3 Iris 70 Na+
Roti warna coklat 3 Iris 70
Singkong 11/2 Ptg 120 K+, P-, S+
Sukun 3 Ptg sdg 150 S++
Talas ½ Bj sdg 125 S+
Tape beras ketan 5 Ptg sdg 100
Tape singkong 1 Sdm 100 S++, P-
Tepung tapioca 8 Sdm 50
Tepung beras 8 Sdm 50
Tepung Hunkwee 10 Sdm 50
Tepung sagu 8 Sdm 50 P-
Tepung singkong 5 Sdm 50
Tepung terigu 5 Sdm 50
Ubi jalar kuning 1 Bj sdg 135 S++, P-
Krupuk udang/ikan 1 Bj sdg 30


Keterangan:
Na+ Natrium 200-400 mg
P- Rendah Protein
S++ Natrium 200-400 mg
K+ Tinggi Kalium
S+ Serat 3-6 g
GOLONGAN II (Sumber Protein Hewani)

Umumnya digunakan sebagai lauk. Menurut kandungan lemaknya, sumber protein hewani dibagi menjadi 3 kelompok.

1. Rendah Lemak
Satu satuan penukar mengandung:
7 g protein 2 g Lemak 50 Kalori

Bahan makanan Unit URT Gram
Babat 1 Ptg sdg 40 Ko++, Pr+
Ganyong 1 Ptg 185 S++
Gembili 1 Ptg 185 S++
Havermout 51/2 Sdm 45 S+
Jagung segar 3 Bj sdg 125 S++
Ketang 2 Bj sdg 210 K+
Kentang Hitam 12 Bj 125 P-
Maizena 10 Sdm 50 P-
Makaroni ½ Gls 50 P-
Mi Basah 2 Gls 200 Na+, P-
Mi kering 1 Gls 50 Na+
Nasi beras giling ¾ Gls 100
Nasi beras ½ giling ¾ Gls 100
Nasi ketan hitam ¾ Gls 100
Nasi ketan putih ¾ Gls 100
Roti putih 3 Iris 70 Na+
Roti warna coklat 3 Iris 70
Singkong 11/2 Ptg 120 K+, P-, S+
Sukun 3 Ptg sdg 150 S++
Talas ½ Bj sdg 125 S+
Tape beras ketan 5 Ptg sdg 100
Tape singkong 1 Sdm 100 S++, P-
Tepung tapioca 8 Sdm 50
Tepung beras 8 Sdm 50
Tepung Hunkwee 10 Sdm 50
Tepung sagu 8 Sdm 50 P-
Tepung singkong 5 Sdm 50
Tepung terigu 5 Sdm 50
Ubi jalar kuning 1 Bj sdg 135 S++, P-
Krupuk udang/ikan 1 Bj sdg 30


Keterangan:
Na+ Natrium 200-400 mg
P- Rendah Protein
S++ Natrium 200-400 mg
K+ Tinggi Kalium
S+ Serat 3-6 g
GOLONGAN I (Sumber Karbohidrat)

Bahan makanan ini umumnya digunakan sebagai makanan pokok.

Satu satuan penukar mengandung:
40 g Karbohidrat 4 g Protein 175 Kalori

Bahan makanan Unit URT Gram
Bengkuan 2 Bj bsr 320 S++
Bihun ½ Gls 50
Biskuit 4 Bh bsr 40 Na+
Gadung 1 Ptg 175 S++
Ganyong 1 Ptg 185 S++
Gembili 1 Ptg 185 S++
Havermout 51/2 Sdm 45 S+
Jagung segar 3 Bj sdg 125 S++
Ketang 2 Bj sdg 210 K+
Kentang Hitam 12 Bj 125 P-
Maizena 10 Sdm 50 P-
Makaroni ½ Gls 50 P-
Mi Basah 2 Gls 200 Na+, P-
Mi kering 1 Gls 50 Na+
Nasi beras giling ¾ Gls 100
Nasi beras ½ giling ¾ Gls 100
Nasi ketan hitam ¾ Gls 100
Nasi ketan putih ¾ Gls 100
Roti putih 3 Iris 70 Na+
Roti warna coklat 3 Iris 70
Singkong 11/2 Ptg 120 K+, P-, S+
Sukun 3 Ptg sdg 150 S++
Talas ½ Bj sdg 125 S+
Tape beras ketan 5 Ptg sdg 100
Tape singkong 1 Sdm 100 S++, P-
Tepung tapioca 8 Sdm 50
Tepung beras 8 Sdm 50
Tepung Hunkwee 10 Sdm 50
Tepung sagu 8 Sdm 50 P-
Tepung singkong 5 Sdm 50
Tepung terigu 5 Sdm 50
Ubi jalar kuning 1 Bj sdg 135 S++, P-
Krupuk udang/ikan 1 Bj sdg 30


Keterangan:
Na+ Natrium 200-400 mg
P- Rendah Protein
S++ Natrium 200-400 mg
K+ Tinggi Kalium
S+ Serat 3-6 g

GOLONGAN VI (Susu)

Merupakan sumber protein, lemak, karbohidrat dan vitamin (terutama Vitamin A dan Niacin), serta mineral (zat kapur dan Fosfor). Menurut kandungan lemaknya, susu dibagi menjadi 3 kelompok.

1. SUSU TANPA LEMAK
Satu satuan penukar mengandung:
10 g Karbohidrat 7 g Protein 75 Kalori

Bahan makanan Unit URT Gram
Susu Skim Cair 1 Gls 200 K+
Tepung Susu Skim 4 Sdm 20 K+
Yogurt Non Fat 2/3 Gls 120 K+
2. SUSU RENDAH LEMAK
Satu satuan penukar mengandung:
10 g Karbohidrat 7 g Protein 6 g Lemak 75 Kalori

Bahan makanan Unit URT Gram
Keju 1 Ptg kcl 35 Na++,Ko+
Susu Kambing ¾ Gls 165 K+
Susu Kental tdk Manis ½ Gls 100 K+
Susu Sapi 1 Gls 200 K+
Tepung Susu Asam 7 Sdm 35 K+
Yogurt Susu Penuh 1 Gls 200 K+


3. SUSU TINGGI LEMAK
Satu satuan penukar mengandung:
10 g Karbohidrat 7 g Protein 10 g Lemak 150 Kalori

Bahan makanan Unit URT Gram
Susu Kerbau ½ Gls 100 K+
Tepung Susu Penuh 6 Sdm 30 Na++,Ko+

Keterangan:
Na++ Natrium > 400 mg
Ko+ Tinggi Kolesterol
K+ Tinggi Kalium










Daftar padanan berisi bahan makanan yang dalam kelompoknya dapat saling menggantikan satu sama lain, karena mempunyai nilai gizi yang kurang Iebih sama.

Sebagai contoh penggantian bahan makanan dan kelompok yang sama adalah sebagai berikut:






Pada umumnya macam makanan di Arab Saudi cukup benaneka ragam. Juga banyak dijual susu segar ataupun yang diolah seperti Zubda, Laban.








Buah-buahan yang


e. Minuman:
Pada umumnya cuaca di Arab Saudi bensuhu tinggi (panas) dengan kelembaban sangat rendah, oleh karena itu selama berada di Arab Saudi biasakan minum air 1 gelas setiap jam walaupun tidak menasa haus.




Air yang dapat diminum berupa : air matang, air zam-zam,
minuman dalam kemasan dan bermacam-macam sari buah.
Apabila jamaah haji mengalami batuk pilek sebaiknya
minum air hangat dan hindari minum air dingin.
Untuk minuman di musim dingin jamaah haji dapat memilih
minuman seperti:
• Susu panas
• Teh susu panas
• Kopi susu panas
• Minuman jahe (dibawa dan Indonesia)


BABV
PENGATURAN MAKANAN UNTUK J~ HAJI YANG MENDERITA PENYA
RISIKO TINGGI (RISTI)


Jamaah haji yang ber-Risiko Tinggi (Risti) mend yang dapat mengganggu ibadah haji. Berdasarkar TKHI tahun 2000-2001 penyakit yang terbanyak Jamaah haji ialah penyakit Lambung dan penyak antara lain: Hipertensi, Jantung Koroner dan Diab~


• Soda kue (Natrium bikarbonat)

• Pengawet daging (Sendawa),

• Pengawet buah (Sodium benzoat)

• Bumbu mie instan, petis, tauco, vetsin dan kecap


2. Batasi makanan yang asin atau diawetkan dengan garam:

Semua makanan yang telah diolah, seperti:
• Biskuit, krekers, bolu, kue lain yang dimasak dengan garam dapur dan margarine.
• Dendeng, abon, corned beef, ikan asin, ikan pindang, sarden, udang kering, telur asin.
• Keju, selai kacang tanah (pindakas).
• Sayuran dalam kaleng.

3. Bahan makanan yang diperbolehkan:


• Bahan makanan segar, seperti beras, ubi, mie, maizena, hunkwee, terigu, gula pasir.
• Kacang-kacangan dan hasil olahnya, seperti kacang hijau, kacang merah, kacang tanah, kacang tolo, tempe, tahu tawar, oncom.
• Minyak goreng, margarine tanpa garam.
• Sayuran dan buah-buahan segar.
• Bumbu seperti : bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, kunyit, kencur, laos, salam, sereh, dan lain-lain.
4. Meningkatkan asupan kalium, kalsium dan magnesium dengan cukup makan sayuran dan buah-buahan.




• Dalam menumis atau memasak sebaiknya menggunakan mentega atau margarine yang tidak mengandung Natrium (garam).
• Untuk memperbaiki rasa masakan yang tawar, dapat digunakan bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, gula, cuka, kunyit, daun salam, dan asam.
• Dengan menggoreng, menurnis, pepes, kukus atau memanggang juga dapat meninggikan/menambah rasa masakan sehingga tidak merasa tawar.
Diabetes Mellitus merupakan kelainan metabolik yang ditandai oleh adanya kenaikan kadar gula dalam darah akibat berkurangnya atau tidak adanya insulin.
Dengan pengaruh insulin, yaitu suatu zat/hormon penting yang dibentuk oleh kelenjar pankreas, gula diubah menjadi energi dan merupakan sumber kekualan otot. Jika insulin yang dibentuk di pankreas terlalu sedikit, maka seseorang akan menderita diabetes. Gula yang ada dalam darah tidak termanfaatkan secara mamadai, karena itu kadar gula dalam darah meningkal dan kelebihannya terbuang melalui air seni. Metabolisme Iemakpun akan Ierganggu.

Faktor keturunan, kegemukan/obesitas, pola makan yang salah, proses menua, stress dan lain-lain merupakan faktor risiko atau faktor pencetus terjadinya penyakit mi.

Gejala Klinis Diabetes Mellitus adalah:

• Sering kencing terutama pada malam han,
• Berat badan yang turun dengan cepat walupun makan makanan dalam jumlah yang cukup atau berlebihan,

















Bengkuang
Bihun
Biskuit 4
Gadung 1
Ganyong 1
Gembili 1
Havermout 5½
Jagung Segar 3
Kentang 2
Kentang Hitam 12
Maizena 10
Makaroni ½
Mi Basah 2
Mi Kering 1
Nasi Beras Giling ¾
Nasi Beras ½ Giling ¾
Nasi Ketan Hitam ¾
Nasi Ketan Putih ¾
Roti Putih 3
Roti Warna Coklat 3
Singkong 1½
Sukun 3
Talas ½
Tape Beras Ketan 5
Tape Singkong 1
TepungTapioka 8
Tepung Beras 8
TepungHunkwee 10
Tepung Sagu 8
Tepung Singkong 5
TepungTerigu 5
Ubi Jalar Kuning 1
Krupuk Udang/Ikan 1
Keterangan:
Na~ Natrium 200 - 400 mg
P- Rendah Protein
S~ Serat>6g
K~ Tinggi Kalium
S~ Serat3-6g


















Babat





Cumi-cumi
Daging Asap
Daging Ayam Tanpa Kulit
Daging Kerbau
Dendeng Daging Sapi
Gabus Kering
Ikan asin kering
Ikan Kakap
Ikan Kembung
Ikan Lele
Ikan Mas
Ikan Mujair
Ikan Segar
Kepiting
Kerang
Lemuru
Putih Telur Ayam
Rebon Kening
Rebon Segar
Selar Kering
Sepat Kering
Ten Kening
Ten Nasi
Udang Segar


Keterangan:
Na~ Natrium 200 - 400 mg
Ko~ Tinggi Kolesterol
P( Tinggi Purin
1 ptg sdg
1 ekorkcl
1 lembar
1 ptg sdg
1 ptg sdg
1 ptg sdg
1 ptg kcl
1 ptg sdg
1/ ekor bsr
1/3 ekorsdg
½ ekorsdg
1/3 ekorsdg
1/ ekor kcl

1 ptg sdg
/3 gls
Y2 gis
1 ptg
2½ btr
2 sdm
2 sdm
1 ekor
1 ptg sdg
1 sdm
1/3 gls

5 ekorsdg













Bakso
Daging Anak Sapi
Daging Domba
Daging Kambing
Daging Sapi
Ginjal Sapi
Hati Ayam
Hati Sapi
Otak
Telun Ayam
Telun Penyu
Telur Puyuh
Usus Sapi
bj sdg
1 ptg sdg
1 ptg sdg
1 ptg sdg
1 ptg sdg
1 ptg bsn
1 bhsdg
1 ptg sdg
1 ptg bsr
1 btn
2 btr
5 btn
1 DtQ bsr
Ko~
Ko~, Pn~
Pn~
Ko~, Pr~
Ko~, Pr~
Ko~










Belut
Corned Beet
Daging
Sardencis
Sosis
Kuning Telur Ayam
Telur Bebek
Telun Ikan

Keterangan:
Na~ Natnium 200 - 400 mg
Na~ Natnium > 400 mg
Ko~ Tinggi Kolestenol
Pn~ Tinggi Punin
ptg sdg ekor kcl sdm ptg sdg ptg sdg ptg btn btr





GOLONGAN III (Sumber Prc

mnva diaunakan sebaaai lauk iuaa.

g LemE








Merupakan sumber vitamin dan mineral, terutama kanoten, vitamin C, zat kapun, zat besi, dan fosfor. Hendaknya digunakan campuran dan daun-daunan seperti : bayam, kangkung, daun singkong, dengan kacang panjang, buncis, wortel, labu kuning, dan sebagamnya. Satu penukan adalah 100 gram sayuran campun lebih kunang 1 gelas (setelah dimasak dan ditiniskan). Golongan sayunan dibagi menjadi 3 macam bendasankan kandungan zat gizinya.


1. SayuranA
Digunakan sekehendak kandungan Kalorinya.
karena sangat
sedikit sekali






S~ Serat3-6g
~ Senat>6g
K~ Tinggi Kalium







Satu satuan penukar (dalam 100 g) mengandung:
I I 2F K~lnri



Bit
Broccoli
Buncis
Cabe Menah Besar
Daun Bawang
Daun Bluntas
Daun Kacang Panjang
Daun Kecipir
Daun Kemangi
Daun Lobak
Daun Lompong Tales
Daun Pakis
Daun Pohpohan
Sawi
Seledni
Taoge Kac. Hijau
Tenong
Genjer
Kangkung
Jantung Pisang
Kacang Buncis
Kacang Panjang
Kapri Muda
Kecipir (buah muda)
Kembang Kol
Kucal
Labu Siam
Labu Waluh
Leunca
Pane
Pepaya Muda
Rebung
Tebu Tenubuk
Wortel
S++
~ K4
S++

S+

S44 K4
S4
K4
S4
S~’, K+
S4

K4

S++
S+
S~, K’




Satu satuan penukar (dalam 100 g) mengandung:
~O Kalori
Bayam Merah
Daun Katuk
Daun Labu Siam
Daun Mangkokan
Daun Mlinjo
Daun Pepaya
Daun Singkong
Keterangan:
S4 Serat3-6g
S4~ Senat>6g
K4 Tinggi Kalium
Ka4 Sayunan > 50 Kaloni







Merupakan sumber vitamin terutama karoten, vitamin Bi, B6, dan vitamin C. Juga merupakan sumben mineral. Benat buah¬buahan dalam daftar ditimbang tanpa kulit dan biji (berat bersih).

Satu satuan penukar mengandung:
12 g Karbohidrat 50 Kaloni
~~Makanan Unit ,~URT Gram
Anggun 20 bhsdg 165 S
Apel Merah 1 bh kcl 85
Apel Malang 1 bh sdg 75 S4
Anbei 6 bhsdg 135 K4
Belimbing 1 bh bsn 140 S44, K4
Blewah 1 ptg sdg 70 S4
Cempedak 7 bj sdg 45 S~
Duku 16 bhsdg 80 K4
Dunian 2 bj bsr 35
Jambu Air 2 bhbsr~ 110 ~
Jambu Biji 1 bh bsn 100 K4
Jambu Bol 1 bh kcl 90 S’
Jambu Monyet 1 bh bsn 80
Jenuk Bali 1 ptg 105 S4, K4
Jeruk Ganut 1 bh sdg 115 S~, K4
JerukManis 2 bhsdg 110 K4
Jenuk Nipis 11/4 gls 135 K4
Kolang-Kaling 5 bj sdg 25 S~
Kedondong 2 bhsdg 120 S44
Kemang 1 bhbsr 105
Kesemek ½ bh 65 5~
Kunma 3 bh 15
Kiwi 1½ bh 110 S4
Lontar 16 bh 185 ~
Lychee 10 bh 75
Mangga 34 bh bsr 90
Manggis 2 bh sdg 80 S4’
Mankisa 3% bh sdg 35 S~’
Melon 1 ptg bsr 190 S4
Menteng 4 bh sdg 75
Nangka Masak 3 bj sdg 45 S+4
Nenas 1% bh sdg 95



Unit
4
1
URT ____

bhsdg 120 5~4
bh kcl 115 S’~
½ bh sdg 85 S44
1 ptg bsr 190 5’, K4
1 bhkcl 50 K4
1 bh 45 K4
2 bh 40 S4,K4
2 bhkcl 40 K4
140 S~
75
S4

S4
S4
S44







I~T~nMakanan
Pala (daging)
Peach
Pear
Pepaya
Pisang Ambon
Pisang Kepok
Pisang Mas
Pisang Raja Sereh
Plum
Rambutan
Sawo
Salak
Semangka
Sinsak
Sirkaya
Strawberry
2½ bh
8 bh
1 bhsdg
2 bhsdg
2 ptg sdg
‘/2 gls
2 bhbsr
4 bhbsn
55
65
180
60
50
215




Gula
Madu

Keterangan:
S’~ Serat3-6g
S44 Serat>6g
K4 Tinggi Kalium

1 sdm
1 sdm
13
15











Menupakan sumber protein, lemak, karbohidnat, dan vitamin
(terutama Vitamin A dan Niacin), serta mineral (zat Kapur dan
Fosfor). Menurut kandungan Iemaknya, susu dibagi menjadi 3
kelompok.

1. SUSU TANPA LEMAK
Satu satuan penukar mengandung:
lOg Kanbohidrat 7gPnotein 75KaIoni
L~han Makanan Unit URT Gram~
Susu Skim Cair 1 GIs 200 K4
Tepung Susu Skim 4 Sdm 20 K4
Yogurt Non Fat 2/3 GIs 120 K4


2. SUSU RENDAH LEMAK
Satu satuan penukar mengandung:
10 g Karbohidrat7 g Protein 6 g Lemak 125 Kaloni
Keju ptg kcl Na44, Ko4
Susu Kambing ¾ gls K4
Susu Kental Tidak Manis ½ gls K4
Susu Sapi 1 gls K4
Tepung Susu Asam 7 sdm K4
Yogurt Susu Penuh 1 gls 200 K4


3. SUSU TINGGI LEMAK
Satu satuan penukar mengandung:
10 g Karbohidrat 7 g Protein 10 g Lemak 150 Kaloni
Susu Kerbau Y2 GIs 100 K4
Tepung Susu Penuh 6 Sdm 30 K4, Ko~


Keterangan:
Na~ Natnium > 400 mg
Ko4 Tinggi Kolestenol
K4 Tinggi Kalium



Bahan Makanan
Unit
Gram

Alpukat ½ bh bsr 60 Tj4, K4
Biji Labu Menah 2 bj 10
Kacang Almond 7 bj 25 S~
MarganinJagung Mayonnaise 1%

2 sdt sdm 5

20
Minyak Biji Kapas 1 sdt 5
Minyak Bunga Matahani MinyakJagung 1
1 sdt sdt s
5
Minyak Kacang Kedele 1 sdt 5 Tj4
MinyakKacangTanah
Minyak Safflower
Minyak Zaitu~L_ 1
1
1 sdt sdt sdt 5
5

5 Tj4

Tj4
2. LEMAK JENUH
Bahan Makanan Unit URT Gram
Mentega
Santan (penas dengan am) 1
1/3 sdm gls 15
40 K4
Kelapa 1 ptg kcl 15 K4
Keju Knim 1 ptg kcl 15
Minyak Kelapa 1 sdt 5
Minyak Inti Kelapa Sawit 1 sdt 5







Bahan makanan mi hampir seluruhnya terdini dan lemak. Menunut kandungan asam lemaknya, mmnyak dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu lemak tidak jenuh dan lemak jenuh.

Satu satuan penukar mengandung:
5 g Lemak, 50 Kalori

1. LEMAK TIDAK JENUH
URT


Keterangan:
S4 Serat3-6g
S44 Serat>6g
Tf Sumben Lemak Tidak Jenuh Tunggal
K4 Tinggi Kalium








• Mengandung kurang dan 5 g Karbohidrat dan kurang dan 20 Kalori tiap penukarnya,

• Bahan makanan yang ada ukuran rumah tangganya, dibatasi maksimal 3 penukar sehani, tetapi jangan dikonsumsi sekaligus oleh kanena dapat menyebabkan kenaikan kadar gula darah,

• Bahan makanan yang tidak ada ukuran rumah tangganya dapat dikonsumsi lebih bebas.

Bahan Makanan
Agar-agar
Am Kaldu Na44, Pr4
Air Mineral
Cuka
Gelatin
Gula Altennatif - Aspartam
- Sakanin
Kecap Na4
Kopi
Minuman Ringan, tanpa gula
Minuman Tonik, tanpa gula
Tauco Na4’
Teh K’
Jam Sele, rendah gula 2 sdt
Krim, non dairy - cair 1 sdm
- Bubuk 1 sdm
Margarine, non fat 1 sdt
Mayonnaise 1 sdm
Permen, tanpa gula 2 sdm
Sirup tanpa gula 2 sdm
Wijen 2 sdm

Keterangan:
Na44 Natrium > 400 mg
K4 Tinggi Kalium
Pr4 Tinggi Purin




















Maret


April


Mei-Agustus



September


Oktoben



Nopember-Pebruani
Udara cukup balk, sejuk, tidak tenlalu panas.
Perubahan cuaca menuju panas, udara berangsun panas.
musim
Panas udara terus meningkat sampai mencapai puncak panasnya pada bulan Juli-Agustus, suhu siang han 55°C.

Sangat panas dan sedikit sekali angin bertiup.

Panas mulai menunun kanena pengantian ke musim dingin, umumnya banyak angin.

Musim dingin sering bertiup angin dingin yang kencang, disentai hujan es.




Keteranjian:
Mulai tahun 2002 s/d tahun 2014 musim haji di Arab Saudi jatuh pada musim dingin.




No.
Waktu
Makan
07.00 -
Menu
Pagi
08.00
Nasi, Telur dadar, urapan
1.


2.


3.



4.


5.
Selingan Pagi
10.00- 10.30

Makan Siang
12.30 -13.00


Selingan Sore
16.00 -16.30

Makan Malam 19.00 -19.30
Keterangan

Sebelum ke
Masjid

Setelah sholat Dhuhur


Setelah sholat Ashar

Setelah sholat Magrib/Isya




















Juice buah, biskuit/buah Segar

Nasi biryani, donner kebab (ayam/daging sapi), pecel sayuran, buah segar.

Kopi/teh susu/juice buah,
Kue donat

Nasi/kentang goreng, ayam Panggang Turki/Pakistan, Ketimun, sambal dan kerupuk, buah segar